Pantai Gunung Payung

 

Biasanya kalau mau ke Bali, saya selalu sibuk buat rencana perjalanan. Semua tujuan dibuat daftar pendek, dari mulai pantai, tujuan kuliner sampai tempat oleh-oleh. Baru kali ini aja, ke Bali gak buat rencana apa-apa. Sampai mobil sewaan sudah jalan pun masih sibuk whatsapp sama temen yang tinggal di Bali, nanya-nanya pantai apa yang sekiranya cihuy buat didatangi. Sebelum memutuskan ke Pantai Gunung Payung, sempet membatin, Pantai sih memang banyak yang belum disambangi, tapi sekedar cek ombak dan penasaran, kira-kira apa ya yang direkomendasikan oleh orang yang tinggal di Bali?

“Lo ke Virgin Beach deh, bagus dan sepi”

“Kayanya sering denger, di mana sih? Apa aja deh yang penting yang gak pake tangga” kata si mbak yang jompo

“Karangasem gitu”

Makjang! Karangasem itu jauh sekali adanya. Buat yang dadakan ke Bali dan hanya dua hari aja, kayanya kurang cocok deh. Lagian, siapa pula yang mau nyetir ke Karangasem?, sampe sana bisa bekonde 5kg betisnya karena pas dapet mobil sewaan yang manual. Akhirnya dengan terpaksa mengabaikan rekomendasi si temen dan beralih ke google. Hasil dari blog seseorang, ketemulah Pantai Gunung Payung yang letaknya di sekitar Nusa Dua. Cocok!

Tidak sampai 45 menit saya sudah hampir mencapai lokasi pantai. Walaupun ini kali pertama, rasanya seperti tidak asing sekali ke daerah pantai ini, karena di ujung perjalanan saya menemukan beberapa area yang dihiasi bukit perkapuran meskipun tidak banyak. Pantas saja, ternyata lokasi Pantai Gunung Payung memang berdekatan sama Pantai Pandawa yang salah satu ciri khasnya adalah tebing-tebing perkapuran tinggi menjulang di kanan dan kiri jalan.

Nama Pantai Gunung Payung diambil dari Pura Gunung Payung yang letaknya berdekatan dengan pantainya. Biaya masuk ke kawasan pantai hanya Rp4.000 per orang dan Rp5.000 untuk kendaraan roda empat. Area parkirnya cukup luas dan terdapat banyak kios jual makanan kecil dan minuman. Samar-samar saya mendengar penjual menawarkan minuman yang kemudian saya abaikan sambil terburu-buru menuju pantai. Toh, minuman/makanan kecil bisa saya beli nanti saja ketika pulangnya.

Pantai Gunung Payung – Lorong teduh menuju pantai

Dari area parkir sebenarnya sudah dapat terlihat jelas samudra yang membentang, tapi untuk mencapai pantai sepertinya harus menuju ke bawah. Saya kira ya, tempatnya bakalan tidak jauh berbeda dengan Pantai Pandawa yang memperbolehkan mobil parkir hingga mendekati tepi pantai. Namun tidak demikian. Nyatanya, saya harus menuruni sekitar 400 anak tangga! Duh, mengapa jompo manja ini harus mengalaminya kembalii T_T .Tapi karena sudah terlanjur, ya sudah lah. Tiba-tiba saya jadi ingat pengalaman sewaktu ke Green Bowl Beach yang juga mengharuskan pengunjung menuruni ratusan anak tangga. Walaupun cukup menghabiskan nafas, namun pemandangan pantai Green Bowl Beach ternyata memang memesona!.

Pantai Gunung Payung Bali ~ Hidden Beach Bali

Pantai Gunung Payung – saya ketemu bangunan setengah jadi ini, namun kurang tau untuk apa nantinya

Di awal menjajaki jalan menuju ke Pantai Gunung Payung, saya melewati sebuah lorong kecil sisa endapan kapur berwarna coklat kekuningan yang dirambati vegetasi hijau. Area ini sukses membuat suasana teduh dan rasanya pengen buru-buru gelaran tiker terus rebahan 😀 . Padahal setengah perjalanan aja beloman hehe. Pemandangan lorong ini sepertinya bakalan jadi salah satu icon Pantai Gunung Payung. Setelah lorong tadi, baru deh saya dengan tabah menuruni anak tangga menuju pantai. Waktu itu kebetulan barengan dengan beberapa penduduk setempat yang kemudian iseng nanya ke saya:

“Bawa minum kan Mbak? Soalnya di pantai gak ada yang jualan”. Hahahaha. Mamam!! T_T

Lorong menuju Pantai Gunung Payung

Menurut penduduk setempat, tadinya sepanjang tangga menuju ke pantai dipenuhi pepohonan rindang dan ilalang. Namun karena sekarang dibuat akses menuju pantai yang lebih baik, keberadaannya mulai berkurang. Padahal jujur saja, salah satu tujuan saya pengen ke Pantai Gunung Payung adalah pengen foto-foto di ilalang dengan latar belakang pantai yang biru. Apa daya, sesi pemotretan kalender warteg harus kandas karena ilalangnya sudah gak ada.

Kira-kira hanya dibutuhkan waktu 10 menit saja untuk mencapai pantai (atau 20 menit jika turun tangganya zuper lelet kaya saya). Ternyata memang pantainya masih ‘perawan’. Sejauh mata memandang, mungkin saya hanya melihat tidak lebih dari 15 pengunjung. Pasirnya putih dan halus. Di beberapa area bibir pantai terdapat karang-karang yang besar. Memang rasanya damai sekali ketika berada di pantai ini, karena pantai ini bagaikan terisolasi dari keramaian turis. Sebagian turis bule terlihat ada yang tertidur dan bersantai di atas kain pantai sambil membaca buku. Sisanya sekedar bermain-main ombak dan berenang di pantai yang bebas dari kerikil karang. Buat yang suka pantai yang sepi, Pantai Gunung Payung ini bisa dijadikan alternatif dari sekian banyak hidden beach di Bali.

Pantai Gunung Payung – Salah satu hidden beach di Bali

Pantai Gunung Payung – Bersih dan sepi banget ya?

Pantai Gunung Payung – si mbak numpang pose calender warteg

Pantai Gunung Payung Bali – Bisa buat menyepi dan bersantai

Pantai Gunung Payung – Cocok banget buat yang suka pantai sepi

Pantai Gunung Payung ini memang bagai surga tersembunyi di Bali. Jadi.. buat yang mau ke Pantai Gunung Payung, please.. jangan buang sampah sembarangan ya.

Leave nothing but footprints or… picture! *kaya si mbak ini :)))))

Pantai Gunung Payung – Tangganya T_T

 

Facebook Comments

2 thoughts on “Pantai Gunung Payung

    1. neng ayu Post author

      hihi, iyaa sih, tapi kaya Pantai Gunung Payung ini kemarin sih sepii.. tapi ya agak PR naik ke atasnya lagi #jompo .
      Pengen juga kapan-kapan ke desa wisatanya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *