Tentang Gagal ke Jepang

 

Ceritanya, tahun lalu saya dapat tiket ke Jepang di travel fair. Jujur saja, selama beberapa kali ke Jepang, tiket inilah yang paling buy-trusted-tablets.com murah. Malahan lebih murah dari ‘Si Merah’ yang notebene budget airlines. Jadwal keberangkatan rencananya Maret tahun 2017 ini. Walaupun sudah pernah ke Jepang, entah mengapa, susah sekali bosan sama Jepang. Menurut saya, Jepang itu ibarat Nasi Goreng. Mainstream tapi selalu ngangenin. Bedanya kalau Nasgor harganya murah, Jepang transportnya bikin dompet kempes hahaha.

pic from merdeka.com – merdeka.com/muhammad lutfhi rahman

Namun apadaya, tahun ini saya tidak ada cuti karena baru masuk di kantor baru. Teman bilang “surat sakit aja!” atau alasan apa kek. Aduh.

Saya mengalami tahun yang berat di 2016. Merasakan pengangguran selama 3 bulan. Lebay ya? iya mungkin. Soalnya alhamdulillah, belum pernah ngerasain nganggur semenjak lulus kuliah. Jadi mungkin shock saat terpaksa ‘di rumah’.

Tahun 2016, karena sesuatu hal, saya ‘di rumah’ sejak Agustus 2016. Puluhan interview saya jalani selama kurang lebih tiga bulan. Iya puluhan dan tidak ada kabar baik sampai berbulan-bulan, hanya wawancara-wawancara lanjutan yang kemudian menguap. Saat itu, saya hidup dari tabungan yang pastinya kian menipis karena tidak ada pemasukan. Saat hampir menyentuh titik nol, saya terpaksa mem-push diri saya untuk melakukan apa yang saya bisa agar tetap ada pemasukan. Saat itu, saya baru menyadari, justru ‘hobby’ saya yang tidak pernah saya seriusi, malah menghasilkan uang. Ada orang yang berbaik hati menerima saya sebagai freelance kontributor untuk menulis tentang traveling di sebuah aplikasi smartphone karena beliau membutuhkan ratusan artikel. Dalam satu hari saya harus submit 5-10 artikel dengan bayaran yang sebenarnya sangat tak seberapa.

Dalam proses membuat artikel, saya kerja dari pagi sampai pagi lagi di depan laptop, kadang sampai mata berair. Kadang sampaiย blankย gak bisa nulis lagi, karena sudah terlalu dipaksakan. Tapi alhamdulillah, dari bayaran yang tidak seberapa, saya tertolong. Allah masih baik banget.

Banyak hikmah yang saya dapat selama pengangguran, yaitu jadi lebih merasa bersyukur terutama atas pendapatan seperak pun yang saya dapat. Kalau dulu, saya beli Chatime kesukaan saya gak pake mikir apa-apa, kalau sekarang pas beli Chatime saya suka membatin “Ya Allah, terima kasih pernah memberikan saya pengalaman pengangguran, saya jadi tau, mungkin bagi orang lain saat ini, sedang merasakan bahwa Rp20.000 itu susah banget nyarinya.” Chatime pun terasa lebih nikmat #tsaaah

Sampai akhirnya, Allah memberikan jawaban manis di akhir tahun, saya diterima kerja di dua perusahaan yang harus saya pilih salah satu. Sekarang, saya lebih bersyukur setiap saat di kantor apalagi saat saya sibuk. Di saat saya harus bangun lebih pagi dari Bekasi, demi bisa naik bus jam 5.00 subuh, karena kantor di Jakarta Pusat dan masuk jam 7. Di saat saya harus nungguin bos dulu yang pulang, baru saya bisa pulang. Di saat naik Transj yang penuh pun saya jadi suka keingetan untuk gak ngedumel. Seenggaknya saya naik TransJ yang penuh untuk ke tempat kerja, bukan untuk cari kerja. Menjalani semuanya pun jadi lebih ikhlas. *duh, kemana aja? ๐Ÿ˜€

Tapi itulah, Allah menegur umatnya dengan cara yang berbeda-beda ya.

Makanya, pas teman menyarankan “Surat Sakit” biar bisa tetap bisa ke Jepang, rasanya kok saya sangat tidak ingin. Setelah berkali-kali beli tiket promo yang berangkatnya setahun kemudian, baru kali inilah saya gagal berangkat.

Sedih sih. Tapi lebih sedih lagi kalau saya sampai kehilangan pekerjaan lagi.

Jadi, maaf ya Jepang. Saya tidak mengunjungimu tahun ini. Mungkin tahun depan, saat sebagian dahanmu mulai mengering dan daun-daunmu mulai menguning, di saat bunga-bunga di Taman Hitachi sudah memerah atau di saat tumpukan salju mulai menghiasi Akita. Semoga saya ada umur panjang, untuk mengulang ke Jepang. *ditulis sambil sesenggukan

Hitachi Seaside Park – pic from tripadvisor.com

Facebook Comments

4 thoughts on “Tentang Gagal ke Jepang

  1. PutriKPM

    Duh jadi kepikiran, bulan depan aku harus unpaid leave karena udah terlanjur beli tiket :’)
    Pikiranku tuh sekarang gini, kalau nggak sekarang kapan lagi? Karena kebetulan aku mau ke Korea for the first time! Btw, I feel you mbak. Pernah ada di fase uang 10ribu aja rasanya sayang buat dijajanin :’)

    1. neng ayu Post author

      wah mbaak, senangnya ke Korea, aku blm pernah, tapi jadi kepingin juga karena product skincare lagi pada hits banget hahah.. Iya, aku pun kalau baru pertama kali ke Jepun mungkin lebih sedih lagi kalo gak jadi jalan. Pun kalau aku karyawan permanen/karyawan lama juga mungkin berani mau ngajuin unpaid leave. Tapi mau gimana lagii.. iya mba, kemarin aku ngerasain dibayar 10rb per artikel, tapi masih bersyukur bgt bisa produktif pas ‘di rumah’. *lah bablas curhat

      Anyway mba, selamat jalan-jalan di koreaa.. ditunggu foto2 pas belanja skincare ๐Ÿ˜€

  2. Bobby Ertanto

    Pernah juga sih merasakan yang begitu.. Jepang ga kemana-mana sih kak, masih ditempatnya hehe. Pasti ada waktu dan jalan kesana. Sing penting niatnya udah ada. Namanya juga dream destination kan. Pasti ada jalan. Salam kenal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *