Akhir Pekan ke Pulau Tunda, Serang – Banten

pulau-tunda

Tulisan saya tentang Pulau Tunda yang dimuat pada Koran Pikiran Rakyat, Kolom Backpacker, Tanggal 29 Nov 2015.

Sewaktu saya mengunjungi Pulau Tunda pada akhir tahun 2015, namanya memang masih terdengar asing. Lalu, baru tau kalo di Serang ada pulau cantik buat liburan hehe..

Sebenarnya tidak berharap banyak sih sama Pulau Tunda, gak ngarep Pulau ini bakalan breathtaking, yang penting sih bisa buat release stress sejenak.

Waktu itu, saya berangkat sama rombongan dengan jumlah hampir 10 orang. Beberapa teman kantor, beberapa lagi temannya teman yang akhirnya kami berteman hingga sekarang. Kami ke Pulau Tunda tanpa provider tour, alias jalan sendiri, ngeteng naik angkot.

Kalau dari Jakarta, sebenarnya sih perjalanan bisa dimulai dari Sabtu pagi. Tapi, karena teman saya parno bakalan kena macet, akhirnya kami sepakat berangkat hari Jumat malam menuju kota Serang. Waktu itu kami memilih terminal Kampung Rambutan sebagai meeting point. 

Terminal Kampung Rambutan ke Terminal Pakupatan, Serang.

Dari Kampung Rambutan kami naik bus menuju Terminal Pakupatan Serang. Lupa sih busnya nomer berapa, kayanya waktu itu kami random aja, naik bus mana aja yang AC dan menuju Merak dan transit di Terminal Pakupatan (Semua bus yang menuju Merak, pasti mampir di Terminal Pakupatan), karena memang pilihannya banyak. Kira-kira dua atau tiga jam, kami sampai di Terminal Pakupatan jam 00.00. Waktu itu beneran gak ada persiapan sama sekali mau menginap di mana. Karena maunya sih, gak jauh-jauh dari Terminal Pakupatan, karena pagi hari kami harus meneruskan perjalanan dari terminal ini ke Pelabuhan Karangantu. Karena sudah gelap dan sepi, akhirnya saya dan teman-teman sepakat nginep di teras masjid yang ada di Terminal Pakupatan. Karena di teras masjid, ya kami sukses kedinginan, digigitin nyamuk T_T.

Terminal Pakupatan ke Pelabuhan Karangantu menuju Pulau Tunda

Keesokan harinya, jam 08.00 saya menuju ke Pelabuhan Karangantu dengan angkot. Karena waktu itu kami rombongan, jadi lebih hemat charter angkot aja hehe.. macam mak-mak mau ke pasar malam gitu deh. Dari Terminal Pakupatan ke pelabuhan tidak begitu jauh, mungkin sekitar 15 hingga 20 menit aja. Perahu kayu dari Pelabuhan Karangantu berangkat ke Pulau Tunda pukul 08.00, kami bareng sama penumpang lain (turis domestik) yang mau ke Pulau Tunda juga. Untuk sewa perahu kurang tau juga harganya berapa, waktu itu teman saya yang mengurus untuk trip ini, jadi saya bayar Rp350.000,- all in sudah termasuk menginap di rumah warga, makan malam 3x dan 1 orang tour guide. Dari Pelabuhan Karangantu menuju Pulau Tunda sekitar 2 jam. Jadi buat yang hobby mabok, siap-siap obat anti mabok laut yah, saya sih hobby tidur aja sama makan, jadi so far so good di perjalanan.

Snorkeling di Pulau Tunda

Sampai Pulau Tunda emang udah agak siang sih, agenda pertama langsung makan siaaang! Karena kami tinggal di rumah penduduk alias homestay, jadi masakannya dimasak sama yang punya rumah. Nasi hangat, sambel terasi, lalapan, ikan balado, kerupuk kampung, telur dadar, makanan yang sederhana tapi nikmat!

Oh iya, Pulau Tunda ini memang masih perawan pariwisata ceritanya, jadi memang fasilitas untuk turis masih minim. Misalnya, kalau malam listrik bakalan mati, jadi warga mengandalkan genset. Air bersih juga terbatas, tapi alhamdulillah tempat saya menginap waktu itu tersedia air bersih yang cukup untuk rombongan kami. Tapi, di sekitar penduduk warga sudah banyak tersedia warung-warung makan, mie ayam, penjual jagung bakar, jadi ya not bad lah!

Setelah makan siang, rombongan sepakat untuk snorkeling, bergosong ria, karena snorkelingnya dilakukan jam 1 siang hahahah. Peralatan snorkeling bisa disewa di Pulau Tunda, kalau gak salah sekitar Rp75.000,- untuk snorkel mask, pelampung dan fin. Tour guide kami membawa rombongan ke beberapa spot. Menurut saya sih ya, lumayan lah.. memang tidak ‘wah’ banget bawah lautnya, tapi banyak ikan warna-warni. Sebagian temen-temen membawa remahan roti di dalam botol aqua supaya disamperin ikan-ikan, saya sih engga yaa.. maunya disamperin jodoh aja #yahcurcoldikitgpp. Lagian saya gak tau, kalau remahan roti itu berbahaya gak sih buat ikan-ikan? and pleaseee… JANGAN INJEK TERUMBU KARANGNYA yaa… .Oh ya, pas snorkeling, too bad cuacanya lagi galau segalau hati neneng, jadi visibility kurang baik, jadinya ya kurang asoy juga pas snorkeling, kurang jernih. Karena menyerah sama cuaca, akhirnya jam 15.00 kita balik ke peradaban untuk hunting sunset.

tunda-3

Pulau Tunda, Serang – Banten

tunda-4

Air jernih di Pulau Tunda

tunda-ci-mei-3

Sebening ini air laut di Pulau Tunda – Pic by Meita Winarto

Jembatan Galau di Pulau Tunda

Menurut tour guide, salah satu spot sunset yang oke itu dari jembatan kayu. Jadilah kita rame-rame ke sana, jalan kaki dari homestay sekitar 25 menit, menembus hutan kecil. Di sepanjang menuju jembatan kayu, saya disuguhi pemandangan blasteran. Blasteran? iya blasteran bagus dan menyedihkan. Bagusnya adalah, jalan setapak sudah dipaving block dan beberapa kali saya menemukan mini savana yang ditumbuhi ilalang tinggi berwarna putih. Cantik sekali! Sempet gak nyangka bakal dapat pemandangan macam ini di Pulau Tunda. Bagian menyedihkan adalah ketika saya menemukan gundukan sampah di sepanjang jalan menuju jembatan. Tidak hanya sampah kecil. tapi gundukan itu ada yang berisi baju bekas, rongosokan meja, dsb. Sedih deh.. Jadi bercita-cita, seandainya saja saya bisa ngomong atau punya keahlian public speaking yang baik, boleh kalii kasih penyuluhan ke warga bagaimana mengelola sampah yang baik. Sayang banget, padahal Pulau Tunda bisa jadi potensi wisata baru.

Udah cukup yah ngecapnya 😀

Akhirnya sampai di jembatan kayu. Memang cantik sih. Jembatan kayunya menjorok ke laut. Menurut Tour Guide jembatan ini bernama Jembatan Galau. Eaaa banget gak sih namanya? Tapi dari penampakannya memang cocok untuk bergalau ria, meratapi nasip sembari menikmati lembayung senja :D. Tidak jauh dari jembatan kayu ada sebuah villa kecil. Sayang saya lupa nanya, apakah villa tersebut disewakan? karena letaknya di tepi pantai, udah dijamin pemandangan dari villa bakalan oke punya. Meskipun ya agak pe-er juga sih, karena letaknya di belakang, jadi jauh dari keramaian = harus sedia stock makanan yang cukup dan hanya cocok bagi mereka yang suka suasana sunyi.

tunda-2

Jembatan Galau

tunda-ci-mei-2

Jembatan Kayu di Pulau Tunda – Pic by Meita winarto

Sunset di Pulau Tunda

Sunset di Pulau Tunda saat itu memang ciamik, walaupun memang kurang maksimal karena cuaca *yang lagi-lagi* galau. Tapi lumayan deh dapet lembayung senja berwarna pink yang bikin betah bergalau-galaulama-lama di jembatan kayu. Alhasil kami foto-foto sampe hampir gelap. Karena sepanjang jalan setapak tidak ada lampu, kami memang terpaksa kembali ke homestay sebelum gelap.

Malamnya, kami ngobrol ngalor ngidul di penginapan sambil makan indomie rebus, lalu makan-makan-makan-ngemil-ngemil teruus ga berhenti 😀 . Suasana malam di Pulau Tunda juga seruu.. karena di tempat kita menginap juga berdekatan dengan homestay lainnya, jadi bertemu pelancong lain yang juga ngerumpi atau nyanyi-nyanyi pakai gitar. Enaknya menginap di homestay, kita juga bisa berinteraksi langsung sama penduduk setempat.

tunda-5

Sunset di Pulau Tunda

tunda-8

Sunset Cantik di Pulau Tunda

Mangrove di Pulau Tunda

Hari kedua di Pulau Tunda, gak ada seorang pun dari rombongan kami yang berhasil bangun untuk liat sunrise, semua tepar ahahah. Untuk menghibur, tour guide mengajak kami lagi untuk snorkeling di spot yang berbeda dari yang kemarin. Kali ini, karena masih pagi, visibilitynya cukup bagus. Jadilah saya berhasil menikmati alam bawah laut Pulau Tunda yang bagus. Setelah snorkeling, saya dan beberapa teman yang masih belum capek, menyusuri ke bagian belakang pulau. Konon, ada hutan mangrove kecil di tepi pantai. Lumayan jauh dari homestay dan karena waktu itu siang hari, lumayan bikin gosong karena di jalan setapak nggak ada tempat berteduh. So guys, pakai sunblock yang tepat yah! Untuk princess ala-ala, jangan lupa bawa payung juga supaya gak meleleh.

Di pesisir pantai sebenarnya hutan mangrove menambah cantik pemandangan Pulau Tunda, namun sayang, lagi-lagi sampah plastik yang saya temukan di beberapa lokasi di bibir pantai. Menurut penjual es kelapa, sampah ini berasal dari Pulau Seribu yang terbawa ombak. T_T .

Tapi saya cukup terhibur sama pemandangannya. Kalau saja bersih sekali, pasti pesisir pantai sekitar hutan mangrove di Pulau Tunda ini bisa jadi primadona tujuan wisata di Pulau Tunda. Karena sepi, saya sama teman-teman jadi bebas foto-foto sampe jontor. 😀

tunda-7

Pesisir Pantai Hutan Mangrove Pulau Tunda

tunda-9

Suasana Pelabuhan di Pulau Tunda

tunda-10

Mangrove di Pulau Tunda

Sekitar jam 14.00 kami bersiap-siap kembali ke kota Serang. Kenapa sih buru-buru? karena konon kalau semakin sore, omba pun semakin ganas. Jadi marilah disudahi segera kunjungan ke Pulau Tunda.

Kesimpulannya, Pulau Tunda bisa jadi potensi wisata baru jika pengelola segera membenahi fasilitas, memperbanyak toilet umum, homestay, penyebaran fasilitas umum yang merata, pembersihan sampah dan lain-lain. Tapi so far, Pulau Tunda cocok lah untuk merasakan vitamin sea untuk melepas penat di akhir pekan.

Yuk ke Pulau Tunda!

tunda-1

Thank you Pulau Tunda!

photo by : Monica Sari, Meita Winarto

Facebook Comments

2 thoughts on “Akhir Pekan ke Pulau Tunda, Serang – Banten