Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Kamu Sederhana, Tapi Aku Jatuh Cinta!

Judul di atas menyimpulkan perjalanan saya ketika mengunjungi Nusa Lembongan beberapa abad lalu *yaa maklum pemirsa, mood menulis padat merayap, jadi baru ditulis T_T

Beberapa kali mengunjungi Bali, memang sempat kepikiran untuk menjelajah ke tempat lain selain di pulau utama Bali. Tetapi, sepertinya beberapa kali ke Bali juga, kaki ini sungguh malas menjelajah ke tempat lain. Begitu sampai Bali, rasanya ingin manja-manja aja di tempat-tempat mainstream yang mempunyai banyak tempat yang lucu-lucu. Pun sekalipun mainstream, berkali-kali mengunjungi Bali rasanya tidak bakal habis tempat-tempat yang akan dan harus dikunjungi.

Sampai akhirnya saya melihat foto teman yang lagi bermanja-manja di pinggir kolam renang. “Nusa Lembongan!” jawab teman saya spontan waktu saya menanyakan dimana lokasi ciamik tempat foto itu diambil. Saat itu membatin, ah, kalau ke Bali lagi, harus deh kesini. Hasil googling juga mendukung rencana saya, karena ternyata ke Nusa Lembongan itu gampang banget.

Warung Nasi Mak Beng yang Nikmeh!
Ketika menginjakkan kaki jam 7 pagi di Bali, saya langsung meluncur menuju Sanur dengan mobil sewaan. Jadi Nusa Lembongan bisa diakses dari Pelabuhan Sanur atau Pelabuhan Benoa dengan tujuan Mushroom Bay atau Pelabuhan Jungutbatu.  Saya pilih rute menuju Mushroom Bay dari Pelabuhan Sanur yang letaknya ada di sebelah Hotel Grand Inna Bali. Untuk pertama kalinya, saya menginapkan mobil rental di parkiran pelabuhan, karena saya sudah terlanjur booking untuk beberapa hari, sedangkan hari pertama saya berencana untuk menginap di Nusa Lembongan. Disana juga banyak mobil yang menginap sehari atau dua hari, selagi penyewa menyebrang ke Nusa Lembongan. Hasil tanya sana-sini sih katanya aman. Semua sudah saya persiapkan; make sure tentang asuransi dari tempat sewa, kunci stir, berdoa khusyuk dan tidak lupa tips yang banyak untuk si penjaga parkiran.

Loket pembelian tiket kapal hanya beberapa ratus meter dari parkiran. Dalam perjalanan menuju loket, saya diserbu ‘pangeran-pangeran’ berseragam warna tertentu yang menawarkan tiket kapal dengan harga yang, wow! Mahal kalau buat saya. Berbagai rayuan diluncurkan para ‘pangeran’ dengan bertubi-tubi. “Beli disini aja mba, 250.000 sudah pulang pergi, cepat lagi, gak pakai nunggu penuh..” . Belum lagi pangeran 1 selesai berbicara, temannya menyerobot, “kalau beli tiket pulang disana, belum tentu dapat lho mba, suka penuh terus.” Saya pun melenggok dengan anggun seperti memakai kacamata kuda. Memang harga yang ditawarkan sangat bervariasi, dari 75.000 sampai 300.000. Tentu semakin cepat <em>boat </em>yang digunakan, semakin mahal pula harganya. Saya memutuskan untuk membeli tiket resmi di loket seharga 75.000 rupiah untuk sekali jalan menuju pelabuhan Mushroom Bay dengan waktu tempuh selama 30 menit. <em>Boat </em>akan berangkat setiap jam, atau sampai tiket terjual habis untuk kapasitas 1 <em>boat. </em>Harga yang ditawarkan pun sangat bervariasi dan berkisar dari 75.000 sampai 150.000 ribu rupiah, sehingga bisa disesuaikan dengan budget pengunjung. Semakin cepat boat yang ditumpangi, maka harga yang dikenakan akan semakin mahal.

Sembari menunggu keberangkatan, saya makan siang di salah satu warung makan di Pelabuhan Sanur. Konon, warung makan ini terkenal banget karena kelezatan soup ikannya. Namanya Warung Nasi Mak Beng *menulis ini saja saya langsung menelan ludah. Warung Nasi Mak Beng (WN Mak Beng) penampakannya sederhana. Tetapi, pengunjung yang datang sampai antri. Mungkin ada beberapa belas orang yang menunggu untuk dapat giliran makan. Jadi makan WN Mak Beng gak boleh lelet dan gak boleh leha-leha. Pesan, makan, selesai, bayar, cuss! Kalo engga, bisa dipelototin yang nungguin :P. Ketika tiba giliran, saya langsung pesan 1 nasi, 1 soup ikan dan 1 porsi ikan goreng. Kemudian datanglah sesajen itu disajikan dengan sambal. Kemudian.. merem melek sampe selesai makan. Karena, ENDES BGT! Huhuhu.. nulis ini aja sampe ikutan merem melek karena keinget enaknya. Kuah soupnya gurih, mirip sama rasa kuah garang asam, tapi yang ini lebih enak. Ikan gorengnya, kayanya bumbunya gak macem-macem, tapi kok rasanya bisa bikin merem melek, luarnya garing tapi daging ikannya lembut. Lalu, sambelnya ituu.. bikin pengen bungkus terus bawa pulang. Saya sampe nambah sambel 3x, maklum orang Bekasi kebanyakan emang suka atraksi debus pake sambel. Ah sudahlah, mari kita sudahi laporan kuliner ala-ala ini.

Wajib coba ya!

Oh iya, tempat makan ini panas banget dan gerah, enaknya sih duduk di bagian luar ya.. kalau di dalam, yaa.. mirip-mirip kaya lagi sauna lah dikit.

Sejumput Surga Lain di Ujung Tenggara Bali
Selesai makan, dengan perut gembul saya buru-buru ke tempat keberangkatan yang jaraknya hanya beberapa puluh meter aja dari WN Mak Beng. Walaupun matahari sangat terik saat itu, antusiasme turis sangat terlihat. Beberapa turis asing sibuk memakai krim sun block di tubuhnya, beberapa turis lain saling bersenda gurau sambil menyanyikan lagu. Riak ombak yang menepuk-nepuk landasan speed boat, membuat seluruh penumpang seakan loncat-loncat di tempat duduknya. Jadi, bagi turis tukang molor seperti saya, jangan harap bisa ketiduran di boat ya!

Tidak sampai satu jam saya sudah sampai di Pelabuhan Mushroom Bay. Lho? Ini kok pelabuhan cantik gini? Beda banget sama apa yang ada di pikiran saya, kalau pelabuhannya bakalan berpasir hitam dan bersuasana ricuh. Di Mushroom Bay suasananya, tenang dan memanjakan, berpasir putih halus dengan air berwarna biru kehijauan. Tidak jauh dari bibir pantai, barisan cottage-cottage cantik seperti menyapa dari kejauhan. Ada cottage </em>yang dari beton maupun yang dari bamboo beratapkan jerami. Kebanyakan mempunyai kamar dengan <em>view</em> pantai! Ah serius ini? Suka banget! jadi sedikit mengingatkan akan salah satu pulau kesukaan saya, Gili Trawangan.

Mushroom Bay – Nusa Lembongan. Tenang dan bersih.

Mushroom Bay – Nusa Lembongan

Mushroom Bay Nusa Lembongan – Pelabuhan tapi bersih, sepi, bisa buat berenang-renang cancik.

Bagian lain yang menyenangkan adalah, saya menginap di salah satu cottage yang letaknya di bibir pantai yaitu Mola-Mola House. Ketika datang ke Mola-Mola House, pelayan dari hotel mempersilahkan saya menunggu di restoran. Saya duduk dengan muka sumringah, menunggu proses check in selesai sambil menyeruput orange juice dingin, welcome drink yang diberikan Mola-Mola House. Bagaimana tidak sumringah? Restoran Mola-Mola House yang sangat sederhana letaknya di depan cottage dan beralaskan pasir putih. Hanya tersedia 4 atau 5 meja yang beratap daun-daun yang menjuntai dari pepohonan besar dan 3 meja beratap rumah di depan kasir restoran. Jarak restoran ke bibir pantai hanya beberapa puluh meter saja. Saya bahkan bisa melihat jelas kilauan air biru kehijauan yang terpapar sinar matahari. Di depan restoran, salah satu turis asing sedang bersantai membaca buku di sebuah bean bed warna warni di depan restoran. Beberapa turis lain bahkan tertidur pulas di atas bean bed. Karena walaupun cuaca terik, tapi anginnya sungguh bikin pengen leha-leha hehe. Ah suka banget!

View di depan restoran Mola-Mola House Nusa Lembongan

Mola-Mola House – Nusa Lembongan. Viewnya ke pantai!

Mola-Mola House, Nusa Lembongan. Bersama Bli Kadek yang baik hati.

Mola-Mola House, Nusa Lembongan. Gapapa lah ya dia narsis?

Alasan saya memilih Mola-Mola House adalah karena dapat referensi dari teman yang sering ke Nusa Lembongan. Dan bener aja, saya sukaa banget sama hotelnya. Saya memilih tipe lumbung hut, jenis kamar dengan bentuk rumah adat. Kamarnya ada di lantai 2, sedangkan bawahnya adalah bale-bale untuk bersantai. Interior kamar semua dari kayu, balkon kamar yang menghadap ke pantai. Dengan harga yang tidak begitu mahal, saya dapat fasilitas yang buat saya oke banget. Beda lagi kalau cottage semacam ini terletak di pulau utama Bali, pasti harganya sudah selangit, atau mungkin, lokasi bibir pantai sudah ‘diambil’ sama hotel-hotel berbintang. Inilah salah satu yang saya suka dari Nusa Lembongan, tidak perlu mahal, tetapi bisa mencicipi sedikit kemewahan :).

Sambil menunggu sunset, saya menyewa sepeda motor di hotel untuk berkeliling pulau. Memang tidak ada pilihan lain, hanya sepeda motor yang bisa disewa untuk keliling pulau. Salah satu kelemahan Nusa Lembongan yang perlu diperhatikan pemerintah adalah, masih banyaknya jalanan yang rusak. Sayang banget, padahal potensi pariwisatanya bagus sekali. Karena jalanan rusak, jadilah menunggang motor berkeliling pulau terasa seperti berpetualang ke hutan belantara. Badang terguncang-guncang bagai naik kuda. Kadang ketemu jalan yang kecil, semennya berlubang besar, lalu tiba-tiba jalannya masih tanah. Kadang ketemu perkampungan padat (daerah Jungutbatu), kadang cuma pepohonan kaya hutan kecil yang sama sekali tidak menemukan perumahan penduduk. Random banget pokoknya 😛 .Tapi seruu! Kalau ketemu bule di jalan, mereka menyapa dengan gembira, mukanya kaya berbicara “hei-seru-banget-ya-naik-motor-dengan-jalanan-kaya-gini?!”. Beberapa dari mereka malah ada yang bersepeda, ada yang lari sekalian olah raga. Karena pulaunya tidak terlalu besar, maka jika dikelilingi dengan sepeda motor hanya memakan waktu selama dua jam.

Dalam perjalanan keliling pulau, saya banyak menemukan ‘surga’, yang membuat saya berpikir “duh, kemana aja sih dari dulu, baru tau Nusa Lembongan sekarang?”. Penginapan yang bagus-bagus di pedalaman juga banyak banget. Tetapi memang agak jauh dari keramaian, jadi cocok bagi turis yang memang ingin menghilangkan penat dan ingar-bingar.

Dream Beach – Nusa Lembongan. Banyak anak-anak berselancar disini..

Beberapa ‘surga’ yang saya temukan adalah Dream Beach. Selain pantainya sepi dan oke, Dream Beach ini juga punya penginapan yang bagus seperti Dream Beach Hut, lengkap dengan swimming pool yang menghadap ke pantai.

Devil’s Tear Beach – Nusa Lembongan, and that beautiful moment 🙂

Salah satu surga yang saya suka adalah Devil’s Tear. Sebuah tebing yang mempunyai sapuan ombak yang besar dan hempasan ombaknya melambung ke udara dengan suara gemuruh. Baguus banget.. waktu saya kesana, ada pasangan bule lagi mengadakan foto pernikahan. Seperti di lukisan banget ya pasangan itu dapat foto pernikahan ciamik. Ah, bikin iri!

Setelah melewati perkampungan padat di Jungutbatu, saya sempat mampir di Coconut Beach. Ketemu pantai ini tentu saja gak sengaja. Hanya buah dari keisengan belaka mengikuti papan penunjuk arah. Ternyata, cantiknya juga bikin pengen leyeh-leyeh di bibir pantainya.

Coconut Beach – Nusa Lembongan. Dilihat dari atas.

Tentu saja saya tidak melewatkan untuk mampir ke Nusa Ceningan. Karena Nusa Ceningan bisa diakses melalui jembatan penyebrangan kecil dari Nusa Lembongan. Nusa Ceningan gak kalah cantiknya sama Nusa Lembongan, terlepas dari jalanannya yang juga rusak di sana-sini. Sayang karena terbatasnya waktu, saya harus segera kembali ke Nusa Lembongan. Ini aja saya udah happy banget bisa ketemu banyak spot cantik seperti Blue Lagoon di Nusa Ceningan. Tempat ini sukses membuat saya melongo di tengah teriknya matahari. Di Blue Lagoon ini juga terdapat Cliff Jumping yang saat itu ramai dipenuhi turis asing.

Jembatan menuju Nusa Ceningan – Bali. Seruu!

Blue Lagoon, Nusa Ceningan – Salah satu surga di Nusa Ceningan.

Cliff Jumping, Nusa Ceningan. Berani coba?

Cliff Jumping, Nusa Ceningan. Adrenalin rush!

Menjelang sore, saya menghabiskan waktu dengan bersantai di Sunset Café &amp; Villa, menyantap segelas kopi hangat dan cemilan sambil menunggu <em>sunset</em> datang. Sayang sekali, meskipun siang hari cerah bukan main, <em>moment </em>matahari terbenam kurang sempurna karena tertutup awan.

View from Sunset Cafe – Nusa Lembongan. Meditation.

Sunset Cafe & Villa – Nusa Lembongan. Sunset gagaal karena mendung.

Malamnya dinner di restoran Mola-Mola House, di pinggir pantai, ditemani suara ombak dan semilir angin. Kebetulan teman saya ada yang berulang tahun dan Bli Kadek, pemilik Mola-Mola House membuatkan tumpeng buat teman saya. Wah baik sekalii.. akhirnya kita makan tumpeng di bawah bintang-bintang. Awww.. *makan tumpengnya sampe O’on, karena banyak banget! 😀

Dinner Area – Sadeg Lembongan, Nusa Lembongan Bali.

Satu yang tidak boleh dilewatkan kalau ke Nusa Lembongan adalah, merasakan massage di pinggir tebing pantai, di salah satu penginapan di Mushroom Bay, Sadeg Lembongan. Kalau selama ini, di ruang spa/refleksi diputar suara-suara yang menenangkan, di Sadeg Lembongan, pengunjung akan merasakan sensasi dipijat di alam terbuka dengan suara alam. Kalau saya sih ketagihan, yang mijet mbok-mbok udah tua, tapi tenaganya masih kuat. Belum lagi <em>massage</em> di alam terbuka, sambil dengerin suara ombak, kicauan burung-burung dan hembusan angin yang bikin tambah tenang. Dijamin ketiduran!

Swimming Pool – Sadeg Lembongan. Cantiik..

Mushroom Bay terlihat dari Sadeg Lembongan.

Massage di alam terbuka, di Sadeg Lembongan. Cuma 150 ribu untuk satu jam. Mau lagi!

Nulis cerita ini jadi bikin pengen cek harga tiket ke Bali 😀

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *