Shirakawago, Ogimachi Village – Seperti di Negeri Dongeng

Seneng deh! Sedikit cerita jalan-jalan ke Shirakawago – Jepang ini akhirnya dapat kesempatan dimuat di majalah Travelxpose edisi Juni  2015. Meskipun cuma dua halaman, buat pemula kaya saya ini sukses bikin semangat nulis lebih giat lagi.

Beli yaa edisi Juni 2015 ini, hehe.. ada cerita tentang Maumere yang indah dan sejarah tentang patung-patung yang ada di Jakarta lho.

Tulisan saya bisa baca disini 

Tentang Ogimachi, Jepang ada di pojok kanan atas. Seneng!

Cuma dua halaman saja pun aku senang!

Pertama tahu tempat ini pas baca di blog seorang fotografer beberapa tahun silam. Waktu itu langsung jatuh cinta dan bercita-cita pengen ke Shirakawago suatu saat nanti. Sampai akhirnya kesampaian tahun ini, yay!

Waktu itu memutuskan untuk nginep di Takayama, kota terdekat dari Shirakawago (hanya satu jam perjalanan dengan bus ke Shirakawago). Perjalanan ke Shirakawago termasuk yang bakalan diinget sampe kapanpun, karena waktu itu ketinggalan tur dan bus gara-gara kelalaian diri sendiri liat jadwal di itinerary:. Jadi, saya kok ingetnya tur bakal berangkat jam 10 pagi, padahal jelas banget ditulis kalau berangkat jam 8 pagi. Anehnya, temen-temen saya juga pada gak lihat, mungkin karena saling mengandalkan satu sama lain, dan udah saling percaya “Ok, jam 10 ya!” hahaha. Jadilah kedodolan terjadi..

Jam 10 duduk manis di depan lobby dan perasaan mulai gak enak. Aneh ini! biasanya, kalau pagi kita selalu in a rush, lha ini kok leha-leha nunggu jemputan. Malahan, teman saya sepagian bolak balik onsen di roof top, saking leha-lehanya.

Something wrong..
Akhirnya nyoba nanya ke reception, kok kita belum dijemput-jemput yah.. kata reception kira-kira seperti ini “lho, memang gak pernah ada sih tour yang jemput ke hotel”
#JEDAAARR

*buka itinerary
*liat jadwal pergi –8 AM MEETING POINT ON TAKAYAMA STATION
Ya inaaang. Dodol kan!
Padahal sudah bayar tour dimuka (transfer atau potong via cc ya), yang lebih bikin deg-degan, dan terancam batal adalah

Bus menuju Shirakawa dari Takayama cuma ada sampai jam 11 siang (pas sadar dengan kedodolan ini, udah jam 10 siang)
Bus kembali dari Shirakawago ke Takayama cuma sampai jam 1 siang
Harus balik ke osaka jam 4 sore
Tiket return  yang sangat, sangat terbatas, terutama jika beli go-show

KZL!!

Akhirnya, dengan harapan dan semangat yang tersisa, saya dan temen-temen lari-lari ke stasiun bus terdekat di tengah dinginnya cuaca yang waktu itu mungkin sekitar 5 sampai 7 derajat. Walaupun hampir terancam batal ke Shirakawago, tapi alhamdulillah masih dikasih kesempatan kesana, karena masih ada sisa 4 seat. Nyaris aja bataal T_T

 Perjalanan dari Takayama ke Shirakawago cuma satu jam. Pemandangan selama perjalanan, wah.. bagus bangeeet. Barisan bukit-bukit berwarna putih, gak habis-habisnya menyambut di sepanjang jalan. Kadang perbukitan samar-samar di belakang perumahan penduduk, kadang perbukitan jelas terlihat dengan sawah yang kering dengan endapan salju dan sungai berair jernih yang arusnya tidak begitu deras. Hal lain yang membuat saya terpana adalah, bus-bus yang membelah perut perbukitan melalui terwongan yang panjangnya berpuluh-puluh kilometer. Di kanan dan kiri jalan tol, tumpukan salju tingginya masih bermeter-meter, bahkan ada yang lebih tinggi dari manusia. Tidak kebayang kalau kesini bulan Desember sampai Februari, saljunya seperti apa ya? Di dalam terowongan yang panjang-panjang, penerangannya sangat baik, salut sama pemerintahan Jepang yang memikirkan akses pariwisata. Padahal, Shirakawago ini pedesaan yang ada di Perfektur Gifu dan letaknya memang terhimpit oleh pegunungan.

Shirakawago adalah salah satu warisan dunia UNESCO dan terkenal sebagai salah satu wilayah yang bercurah hujan salju paling besar di Jepang. Waktu perjalanan kesana hampir semua perbukitan didominasi warna putih karena tertutup salju. Walaupun di beberapa area sudah mulai mencair, tapi di pinggir jalan, tumpukan salju tebal masih banyak ditemukan. Saya pernah melihat foto dari blog, ketika hujan salju di Shirakawago pada bulan Desember, indah banget! Mengingatkan saya seperti di film-film kartun pada musim Natal. Di area Shirakawago, banyak rumah-rumah jerami yang umurnya sudah ratusan tahun dan struktur bangunannya tetap dipertahankan sampai sekarang. Hebatnya lagi, semua bangunan rumah jerami (atau sering disebut Gassho-Zukuri) sama sekali tidak menggunakan paku, hanya disanggah sama kayu dan diikat oleh tali-tali.

Sayang sekali, karena keterbatasan waktu, saya tidak sempat masuk ke Gassho Zukuri. Memang, beberapa Gassho Zukuri dibuka untuk umum. Beberapa diantaranya dijadikan museum atau penginapan bagi turis, salah satunya rumah Wada yang konon katanya tertua diantara Gassho Zukuri lainnya. Saya dengar, memang biaya menginap di rumah jerami ini agak sedikit mahal, tapi untuk pengalaman sekali seumur hidup, boleh banget dicoba ya?

Kalau kesini saat musim dingin, jangan lupa menikmati pemandangan dari Observation Point, bisa melihat keindahan desa Ogimachi dari atas. Bisa-bisa merasa seperti lagi di negeri dongeng 🙂 . Biasanya, musim dingin adalah musim yang paling diminati untuk berkunjung kesini. Karena terkenal pemandangan rumah-rumah jerami dengan salju-salju tebal menutupi atap dan area Ogimachi. Pertunjukan Light Festival di malam hari pada musim dingin juga jangan sampai dilewatkan, katanya pemandangannya dari observation point indah banget, karena Gassho Zukuri akan dihiasi lentera-lentera cantik. Perpaduan pemandangan rumah-rumah jerami bersalju dan cahaya kecil dari lentera-lentera ini akan membuat pengunjung terpana *tsah. Sayang banget, lagi-lagi saya gak bisa menikmati Lifgt Festival ini, karena sudah sold out. Hiks! Jadi buat kamu yang penasaran, sila googling dengan keyword “Light Festival Shirakawago”. You’re welcome

Tapi kalaupun kesini pada musim semi, panas, atau musim gugur juga pemandangannya bakalan sama cantiknya sih.

Ah, jadi kangen ke Shirakawago! T_T, yang jelas jangan pake ketinggalan tour ya!

Info and  Tips:

Kalau mau simpel dan pakai affordable tour bisa pakai http://tour.j-hoppers.com/, banyak pilihan, ada yang sudah termasuk hotel dan transportasi, atau One Day Tour aja juga ada.

Kalau mau liat Light Festival, baiknya reservasi dari jauh-jauh hari, miniman 2 bulan sebelumnya hehe, habis katanya cepet banget sold out.

Untuk periode liburan yang singkat, disarankan naik Shinkansen via Nagoya atau Takayama, lebih cepat. Karena naik bus akan memakan waktu 4 jam dari Osaka atau Kyoto.

Apabila naik bus, juga disarankan memesan tiket return dari jauh-jauh hari.

ini foto-fotonya yang bikin kangeen..

..dan tumpukan salju yang mengendap

Mau kemana kita?

Tumpukan salju yang menutupi pintu rumah, bagaimana keluarnya yah?

Jembatan penghubung ke Observation Point

Loncat kesenangan 😀

Bahasa kerennya : Mendelep :)))

aw aw aw.. aku bosen ah foto mbaknya terus!

Ogimachi Village dari Observation Point, cantik banget!

Seperti negeri dongeng 🙂

#asikasikjos 😀

Sampai jumpa lagi Shirakawa!

Oh iya, mau ikutan masukin tulisan di rubrik Traveler’s Note majalah Travelxpose?

Bisa kirim tulisan 5000 – 7000 karakter atau 3 halaman A4, sertakan 6-8 foto terbaik dengan ukuran minimal 100kb, jika redaksi setuju memuatnya, baru kirimkan foto dengan ukuran original. Kirimkan ke redaksi@travelxpose.com . Selamat mencoba ya!

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *