Terbuai Duet Kuliner Sulawesi – Maluku di Signatures Restaurant

Ah, lagi-lagi saya terbuai oleh cita rasa dari negeri sendiri. Kalau banyak yang bilang, makanan Indonesia itu tidak ada yang menandingi kelezatannya, itu memang benar adanya! Terbukti sewaktu saya kembali berkunjung ke Signatures Restaurant untuk menyicipi makanan Sulawesi dan Maluku beberapa waktu lalu.

Lagi-lagi saya datang terlalu cepat. Lobby hotel Kempinski nampak ramai oleh tamu-tamu yang akan check-in karena waktu hampir menunjukkan pukul 12 siang. Saya duduk di salah satu kursi yang unik di salah satu sudut bagian Lobby.

Sebentar lagi saya sampai, tunggu ya” saya membaca pesan yang masuk pada whatsapp. Acara makan-makan kali ini hanya akan dihadiri oleh saya dan Mas Teguh, karena teman saya berhalangan hadir. Tak apalah, toh Mas Teguh membawa anaknya, Mayumi, yang akan menemaninya. Jadi tidak akan terlalu sepi.

Tak lama Mas Teguh datang dengan Mayumi yang berambut kriwil dan tampak sungguh menggemaskan. Saya, Mas Teguh dan Mayumi langsung memasuki Signatures Restaurant untuk memulai acara makan siang kami. Seperti minggu yang lalu, Signatures Restaurant dipenuhi pengunjung yang hendak menyantap makan siang. Beberapa pengunjung sibuk melihat sajian makanan dengan menengok ke kiri dan ke kanan di sepanjang lorong. Saya pun ikut terbawa sibuk melihat-lihat sambil menelan ludah beberapa kali karena tidak sabar ingin mengambil piring, sampai-sampai saya lupa belum menaruh tas di meja yang sudah dipesan untuk kami bertiga. Memang tema menu makanan minggu ini termasuk yang menu yang paling saya tunggu-tunggu, karena saya suka sekali Sambal Roa. Iya! Tema makanan minggu ini adalah Sulawesi dan Maluku. Termasuk makanan asal Manado Ibukota dari Propinsi Sulawesi Utara.

Setelah minggu lalu saya makan dengan teratur, dari makanan pembuka, makanan utama sampai ditutup dengan makanan penutup, kunjungan saya kali ini akan sedikit berbeda. Karena saya akan mengambil makanan secara acak. Mungkin karena saya terlalu tidak sabar untuk mencomot makanan utama kali ya? hehe..

Adalah Gohu Papaya & Udang yang menggoda rasa penasaran saya ketika saya meliriknya. Pepaya yang dipotong kecil-kecil tampak <em>plain </em>dan pucat. Sejenak saya memang meragukan rasanya dan enggan untuk mencoba walau membuat penasaran. Saya mengambil sejumput saja. Mirip seperti oseng-oseng sayur labu siam. Ternyata rasanya enak. Pepaya yang dipotong kecil-kecil itu masih mengkal alias tidak terlalu lembek. Terasa sedikit pedas dan manis. Juga sedikit terasa sedikit asam yang mungkin berasal dari cuka. Sewaktu saya mencobanya, makanan memang disajikan dingin yang ternyata membuatnya makin cocok di lidah saya. Gohu Papaya dan Udang ini menambah daftar makanan favorit saya yang berasal dari Manado.

Gohu Papaya & Udang dari Manado di Signatures Restaurant

Gohu Papaya & Udang dari Manado. Makanan lain yang membuat saya tertarik adalah Landau Lauk Pare. Wow! Makan Pare? di hotel? jarang banget atau malah hampir tidak pernah saya temukan selama makan di hotel. Biasanya saya hanya menemukan pare ya di abang-abang yang menjual siomay atau masakan di rumah. Tetapi saya jarang sekali membeli siomay pakai pare, menurut saya masakan pare yang enak hanyalah ketika pare tersebut dimasak oseng pedas dengan udang kecil-kecil atau ikan teri seperti yang suka dimasak sama Ibu saya. Itu pun kadang diledek sama Bapak saya, “makan kok pare, gak ada vitaminnya.” hehehe.. yang dicuekin sama Ibu dan saya karena kita tetap makan pare dengan lahap pakai nasi hangat.

Jadilah, saya langsung menyendok Landau Lauk Pare ke piring kecil. Taburan irisan cabai yang menghiasi potongan pare, sungguh membuat saya menelan ludah. Rasanya memang pedas, tidak pahit walaupun tidak memakai ikan teri dan sedikit asin. Harumnya lengkuas baru sedikit terasa ketika saya kembali melahap sesendok pare selanjutnya. Uniknya, Landau Lauk Pare ini juga disajikan dingin seperti Gohu Papaya &amp; Udang, sehingga memberikan pengalaman baru buat lidah saya yang biasanya menyantap oseng pare ketika masih hangat.

Landau Lauk Pare. Jangan takut makan Pare, Pare itu bisa enak banget lho!

Ketika duduk di meja, sebelah saya sepertinya seorang blogger yang mungkin juga datang untuk kuliner makanan Kalimantan – Sulawesi. Terlihat dari kamera DSLR yang dibawanya dan kesibukannya memotret makanan yang masih mejeng cantik di piring. Saya melihat dia memotret Sashimi, sebutan lain bagi makanan laut yang mentah khas Jepang. “Suka sashimi tuna juga yah mba?” tanya saya. “Iya, tapi ini bukan Sashimi makanan Jepang lho, ini Tuna Gohu makanan khas Ternate. Nanti kita cobain bareng setelah aku foto ya” ujarnya sambil sibuk memotret.

Siapa menyangka bahwa Indonesia juga punya Sashimi ala Ternate? Kalau saja saya tidak kuliner-an hari ini di Signatures Restaurant, pasti saya tidak bakalan kenalan sama Sashimi Ternate ini hehe. Nama lain Sashimi ala Ternate ini adalah Gohu Tuna Ikan. Disajikan dengan irisan cabai merah, bawang merah yang rasanya pedas asam seperti Sambal Dabu-Dabu dari Manado. Gohu Tuna berhasil disajikan dengan segar, tidak berbau amis, terasa sedikit saja rasa asin dan berbau jeruk nipis/lemon. Ketika dimakan sendirian memang rasanya agak hambar tetapi ketika disantap berbarengan dengan irisan cabai tadi, hmmm! Tak kalah enak sama Sushi Sashimi yang suka disantap dengan shoyu (kecap asin Jepang). Bagi pecinta kuliner, pastinya wajib coba Gohu Tuna Ikan ini,

Gohu Tuna Ikan – Sashimi ala Ternate – Maluku Utara Selesai menyicipi Gohu Tuna Ikan saya kembali hunting untuk memilih makanan lain. Beruntung saya juga bertemu

Chef Petty Elliot, Chef kelahiran Manado – Sulawesi utara yang sudah begitu lamanya menulis tentang makanan, menyukai traveling dan photography. Wah, like living the dream ya hidupnya? Jangan sampai tulisan ala-ala review ini dibaca Chef Petty, bisa maluuu :D. Chef Petty begitu sabarnya menjelaskan kepada blogger, bumbu-bumbu yang digunakan pada setiap masakan khas Sulawesi dan Maluku. Saya pun membuntuti rombongan blogger yang sedang asyik mendengarkan Chef Petty. Beberapanya terlihat kebingungan, mau mencatat, memotret atau menyimak dan mendegarkan. Hihihi.. Tapi Chef Petty rasanya begitu pengertian dengan kesibukan blogger masing-masing, sambil terus berpindah-pindah menjelaskan makanan satu persatu sambil sesekali tersenyum.

Chef Petty Elliott, yang masih mau diajak foto bareng, setelah dengan sabarnya menjelaskan setiap makanan nusantara di Signatures Restaurant – Kempinski Jakarta. Ketika Chef Petty menjelaskan tentang Air Goraka, sebuah minuman khas Halmahera, saya langsung mengambil satu gelas. Rasanya enaak sekali. Campuran rasa pedas dari jahe dan rasa manis dari gula aren, membuat saya ketagihan. Sampai meneguk tiga gelas kecil. Sayang sekali saya tidak menyendok taburan irisan kenari kecil-kecil yang juga menjadi campuran Air Goraka.

Air Goraka, Khas Halmahera

Melengkapi hidangan pembuka, saya mencoba soup Binte Bilu Huta yang berasal dari Gorontalo. Sungguh, datang kesini membuat saya membuka mata, bahwasannya ada ribuan masakan asal dari negeri sendiri yang enak-enak dan belum saya coba. Nama Binte Bilu Huta sebenarnya sudah menjelaskan isi dari soup tersebut, kata Binte artinya adalah jagung, sementara Biluhuta artinya ‘disiram’ sehingga artinya jagung yang disiram menjadi sebuah soup yang sederhana. Walau sederhana, rasa soup ini patut diberi jempol. Dengan tambahan irisan udang rebus sedikit rasa jeruk nipis, membuat soup ini mempunyai rasa yang unik. Pipilan jagung manis yang disendok berbarengan dengan daun kemangi, rasanya sungguh memberikan kejutan.

Binte Bilu Huta – Soup Jagung asal Gorontalo.

Saat memilih makanan utama, pilihan pertama saya adalah Daging Iga yang saya campur dengan Sambal Colo-Colo. Daging iganya empuk. Meskipun terlihat tidak berbumbu, tapi seperti ada rasa gurih pada irisan dagingnya. Tidak lupa saya tambahkan bakwan jagung khas Manado buat menemani sambal colo-colo yang pedas dan irisan tomatnya sangat segar. Sambal Colo-Colo ini sepertinya cukup foodgenic,karena akan cocok dijodohkan dengan ikan bakar dan lauk lainnya.

Daing Iga dan Sambal Colo-Colo yang segar dan pedas

Makanan lain yang unik menurut saya adalah Daging Pantallo Pamarason, makanan khas dari Toraja. “Ini khas Toraja, dimasak dengan menggunakan keluak, rasanya seperti semur” ujar Chef Petty sambil membuka tutup kuali Daging Pantallo Pamarason. Benar saja, Daging Pantallo Pamarason ini berwarna hitam seperti semur namun rasanya mirip seperti Rawon (makanan khas Jawa Timur). Jika kuah pada Rawon terasa ringan di mulut, kuah Daging Pantallo terkesan lebih ‘berat’ seperti kuah santan pada opor Betawi. Dimasak dengan rempah-rempah dari Toraja membuat tekstur daging yang lembut menjadi gurih sekali.

Uniknya lagi, Chef Petty menjelaskan bahwa di Maluku, tidak semua lauk pauk disantap dengan karbohidrat berupa nasi, tetapi diganti dengan pisang, ubi atau singkong. Jadi, bisa saja Daging Pantallo Pamarason ini disantap dengan pisang dan ubi. Jadi asin bercampur manis, pasti menciptakan cita rasa yang unik.

Daging Pantallo Pamarason khas Toraja. Perhatikan lebih dekat, dijamin ngiler 😛

Memakan lauk dengan pisang dan ubi rebus.

Waktu yang saya tunggu-tunggu adalah mencicipi nasi kuning khas Manado. Hmm! Rasanya kalau ini sih lidah saya pasti suka hehe. Terlebih lagi, nasi kuning ala Manado di Signatures Restaurant memang enak dan gurihnya terasa. Dicampur sambal kesukaan saya, sambal roa yang pedaaaasss sekali, membuat saya keringetan dan menambah beberapa sendok lagi guna menyeimbangi rasa sambal yang terlalu pedas jika tidak ditemani nasi. (ini sih modus juga supaya nambah hehe). Selain sambal roa, saya juga mengambil ikan cakalang khas Manado dan Sayur Poki-Poki masak santan untuk menemani si Nasi Kuning.

Ini kali pertama saya mencoba sayur Poki-Poki masak santan. Namanya memang terdengar asing dan lucu untuk sebuah masakan. Poki sendiri di kota asalnya, Tomohon, artinya adalah terung. Setelah mencicipi, saya ketagihan. Kecapan pertama terasa seperti sayur lodeh, dengan santan yang kental dan gurih. Namun semakin lama, kuahnya semakin terasa seperti kuah yang diasapi, ah sedap sekali. Entah mengapa bisa terasa seperti itu, mungkin rasa itu berasal tuna yang sudah diasapi dan tercampur di dalam sayur Poki-Poki. Saya jadi penasaran, sebegitu seringnya saya makan makanan Manado, kenapa baru sekali ini bertemu si Poki-Poki yang menggoyang lidah?

Nasi Kuning, Sambal Roa, Ikan Cakalang dan Sayur Poki-Poki. Ini salah satu surga dunia 🙂

Sembari menikmati tarian yang disuguhkan Signatures Restaurant, saya juga mencoba Ayam Gagape asal Sulawesi Selatan. Tadinya agak meragukan, karena dilihat dari warnanya, kok mirip sekali dengan opor. Karena sering makan opor, saya urung mencobanya. Lalu kemudian karena tetap membuat penasaran, saya akhirnya mengambil satu potong Ayam Gagape yang ditemani Ikan Kakap Woku Blanga. Penampilan memang bisa menipu. Ternyata rasa Ayam Gagape berbeda dengan opor yang suka saya makan. Ayam Gagape lebih kaya rasa, mungkin karena menggunakan rempah-rempah lain yang tak biasa seperti jinten dan beberapa bumbu yang dimasak dengan cara disangrai. Rasa kunyit dan serai juga langsung terasa pada kecapan pertama, membuat Ayam Gagape ini menang telak dengan Opor yang sudah sering saya makan.

Ayam Gagape dari Makasar berduet dengan Ikan Kakap Woku Belanga. Yummy

 Rasanya, Ikan Kakap Woku Blanga sudah sangat familiar sekali sama lidah saya. Karena begitu seringnya saya melahap jenis masakan woku ketika singgah di rumah makan Manado, menu woku tidak pernah ketinggalan saya pesan. Disini, ciri khas woku masih terasa. Segar dan pedas. Cita rasa woku memang sangat khas dan selalu bisa menggoda saya untuk menambah lagi dan lagi. Apalagi ketika ingin menyendok, lalu tercium aroma harum yang dihasilkan dari perpaduan berbagai rempah seperti kemangi, jeruk, daun kunyit dan serai. Aduh.. Nambah deh!

Perut sudah memberikan tanda menyerah. Tetapi mulut saya kurang bisa berkompromi. Sedikit saja saya mengambil ayam rica-rica dan sambal kenari khas Maluku. Sebagai penggemar sambal, kok rasanya agak aneh jika tidak mencoba sambal yang namanya masih asing buat saya. Benar saja, rasanya ternyata sungguh unik, karena terbuat dari biji kenari yang sudah disangrai kemudian diulek bumbu lain seperti terasi dan cabai. Kalau tidak tahu ini dari kenari, saya menebaknya ini terbuat dari tempe yang diulek, karena teksturnya sedikit sama. Saya sampai senyum-senyum keenakan ketika menyicip sambal kenari ini.

Kiri : Sambal Kenari – Kanan : Sambal Roa. Juara!

Ketika siang hampir selesai, akhirnya perut saya menyerah juga. Padahal, masih banyak yang belum saya coba. Beberapa makanan sudah sering saya makan, namun sisanya, belum pernah saya coba. Makanan lain yang tersedia di Signatures Restaurant terbilang lengkap dan cukup mewakili tema masakan kali ini (Sulawesi – Maluku). Dari mulai bubur manado (Tinutuan), klaper tart, coto makassar, kepiting lada hitam, sayur kembang pepaya, ayam rica-rica, prawn tuturuga, mie goreng sambal roa, tuna asap suwir, ikan kerapu bakar, es palu butung, dan masih banyak lagi yang belum saya sebutan. Ini pun belum termasuk makanan lain yang juga disediakan seperti berbagai macam jenis pasta, pizza, salad, cemilan pasar, es krim, sampai berbagai macam makanan Jepang. Duh, gimana tidak bingung coba?

Acara makan-makan pun saya sudahi dengan menyantap berbagai macam makanan ringan sambil bersenda gurau dengan beberapa teman baru di meja.

Mas Teguh dan anaknya, Mayumi. Makan Cotton Candy yang juga tersedia di Signatures Restaurant

Tidak kesampaian foto sama penari, foto sama ondel-ondel saja di depan Signatures Restaurant 🙂

Beberapa jam kuliner nusantara di Signatures Restaurant, rasanya saya seperti benar-benar dibawa berkeliling Sulawesi – Maluku. Ah, saya jadi penasaran. Kejutan apalagi yang akan diberikan Signatures Restaurant tahun depan?

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *