Sate Unjuk Gigi, Mengharumkan Nama Bangsa di Pavilion Indonesia – World Expo Milano 2015

Jika membaca kata Sate, yang terlintas di benak saya adalah makanan alternatif jika di rumah tidak ada makanan. Jadi terbayang sosok Ibu saya yang selalu memasak sebelum berangkat kerja, namun ada kalanya beliau mengeluarkan kata-kata seperti ini, “Mama hari ini tidak masak, beli sate aja ya buat makan malam nanti?” hehe. Selain makanan alternatif, Sate juga salah satu favorit makanan penyelamat bagi anak kos. Mudah dicari, pembuatan dan penyajiannya cukup cepat dan tentu saja enak. Sate memang sederhana. Namun siapa sangka, sate yang sederhana bisa menjadi primadona di Pavilion Indonesia pada World Expo Milano 2015 yang berlangsung dari Mei 2015 hingga 31 Oktober 2015. Sate bahkan mampu bersaing dengan rendang, makanan Indonesia yang juga lezat dan kaya akan bumbu dan rempah-rempah.

World Expo adalah acara yang rutin dilaksanakan setiap lima tahun dan tahun 2015 diselenggarakan di Milan. Expo ini memang ditujukan untuk mempromosikan pariwisata, industri kreatif, kebudayaan serta kuliner bagi setiap negara yang mengikuti acara ini. Tidak main-main, pada expo ini ada 145 negara dari seluruh dunia yang menjadi peserta dan berlomba-lomba unjuk gigi untuk mempromosikan kebudayaan, kuliner dan pariwisata. Jujur saja, saya sebenarnya baru dengar ada expo semacam ini. Beruntung saya diundang oleh Artha Graha Peduli, salah satu unit usaha yang bergerak dalam bidang pariwisata-kuliner, dan berada di bawah naungan Artha Graha Network, yang sedang mempromosikan acara ini kepada media beberapa minggu lalu di New Musro Club and Lounge, Hotel Borobudur. Artha Graha Peduli, pada awalnya hanya berpartisipasi melalui sponsorship. Namun, karena keterbatasan tenaga dari Koperasi Pelestari Budaya Nusantara (KPBN), maka Artha Graha Peduli dipercayakan untuk mengelola Pavilion Indonesia secara menyeluruh dengan pengawasan dari Kementrian Pariwisata.

KPBN sendiri tadinya dipimpin oleh Almarhum Didi Petet (sebagai CEO) yang wafat beberapa hari setelah Milan Expo dibuka. Sejak wafatnya almarhum Didi Petet, segala personil yang terlibat dalam Pavilion Indonesia, bekerja keras membangun dan membuat Pavilion Indonesia sebaik mungkin agar dikenal oleh pengunjung World Expo Milan. Saya sangat terharu saat mendengar satu persatu dari perwakilan yang terlibat pada Pavilion Indonesia menceritakan upaya-upaya yang dilakukan oleh anak-anak bangsa Indonesia. Dari bulan Maret 2015, personil sebanyak 110 orang dilatih secara fisik dan mental, dari pagi hingga malam. Personil ini secara bertahap dikirimkan sebanyak 15 orang secara bergantian selama acara berlangsung. Usaha pun tidak sia-sia. Atas jerih payah semua personil yang terlibat, siapa menyangka jika Pavilion Indonesia berhasil termasuk kedalam 10 pavilion terunik dari 145 negara.

Pavilion Indonesia, World Expo Milano 2015

Wayang yang ditampilkan pada Pavilion Indonesia

wadah rempah berbentuk salah satu pulau utama Indonesia

Bagian yang tidak kalah menarik adalah ketika saya mendengar perwakilan dari Artha Graha bercerita tentang bangunan Pavilion Indonesia yang sungguh unik dan cukup membuat penasaran pengunjung. Bangunan yang terbuat dari rotan sintetis dan menempati lahan seluas 1.175 meter persegi, desainnya terinspirasi dari bentuk alat tangkap ikan yang disebut dengan Bubu, dengan harapan Pavilion Indonesia dapat ‘menangkap’ pengunjung lebih banyak. Pavilion Indonesia juga menyesuaikan dengan tema yang diusung oleh World Expo Milan “Feeding The Planet, Energy For Life”, yaitu dengan tidak menggunakan pendingin ruangan (AC), tidak menggunakan plastik dan memakai bahan-bahan ramah lingkungan. Ketika film pendek yang memperlihatkan Pavilion Indonesia ditampilkan, saya sungguh tidak menyangka kalau Pavilion Indonesia bisa dibangun begitu unik dan menarik, sehingga saya saja berharap bisa mengunjunginya dan merasakan euphoria di sana. Dalam pavilion ini terdapat keterangan tentang maritime dan menampilkan berbagai macam benda yang mencerminkan kebudayaan Indonesia seperti wayang, salah satunya. Pengunjung juga bisa menikmati seluruh benda dengan menggunakan seluruh indra yang dimiliki. Misalnya saja, pengunjung bisa meraba, mencium rempah-rempah asli Indonesia, mendengarkan lagu-lagu tradisional khas Indonesia. Selain itu, pengunjung akan disuguhkan pertunjukan tari-tarian daerah dan tentu saja mencicipi makanan Indonesia pada menu prasmanan atau ala carte pada restoran yang ada di dalam Pavilion.

Demo memasak yang membuat pengunjung penasaran

Pertunjukan Seni Tari

Adalah kuliner Indonesia yang ternyata membuat Pavilion Indonesia sukses dikunjungi pengunjung sebanyak 10.000 orang setiap harinya! Hebat ya? Malahan, pernah mencapai rekor dengan 19.000 pengunjung dalam satu hari. Wow! Saya sampai tepuk tangan waktu mendengarnya. Berbagai menu daerah yang disajikan beberapa diantaranya adalah rendang, sate, tongseng, es campur, nasi goreng. Sate ternyata sukses menjadi primadona di Pavilion Indonesia dan selalu habis terjual setiap harinya. “Ada pengunjung asal Milan, yang pertama kali mencoba sate, menurutnya sate makanan paling lezat. Lalu keesokan harinya, dia datang lagi membawa keluarganya” kata salah satu chef yang semangat bercerita tentang antusias pengunjung ketika mencoba makanan Indonesia.

Rencananya, ketika bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 2015, akan diadakan pameran foto dan pesta rakyat di Pavilion Indonesia. Acara yang turut melibatkan pelajar yang ada di Milan ini, akan mengundang semua WNI yang ada di Milan untuk turut serta memeriahkan kegiatan upacara serta lomba-lomba seperti balap karung, makan kerupuk.

Salut bagi setiap personil yang sudah terlibat dan bekerja keras demi kesuksesan Pavilion Indonesia. Semoga melalui Pavilion Indonesia, banyak Negara yang <em>aware </em>akan keindahan alam dan keunikan Budaya Indonesia, sehingga lebih banyak menarik turis mancanegara untuk datang ke Indonesia.

Sumber foto : Dari Artha Graha Peduli

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *