Berkenalan Dengan Makanan Khas Kalimantan di Signatures Restaurant

Selama ini saya jarang sekali memakan makanan khas Kalimantan. Siapa yang menyangka, kalau ‘Pertemuan’ pertama saya dengan berbagai macam makanan Kalimantan sungguh berkesan. Karena ternyata enak-enak!

Begitu tahu kalau Restaurant Signatures di Hotel Indonesia Kempinski menggelar acara yang menyajikan kuliner khas nusantara, wah saya langsung pengen datang. Saya tahu acara ini dari teman, sekaligus mentor saya Mas Teguh Sudarisman, yang kemudian mengajak saya untuk makan di Signatures bersama satu orang lagi teman saya, Marcelina.

Signatures Restaurant – Hotel Indonesia Kempinski

Saya datang tepat waktu sesuai yang sudah dijadwalkan, yaitu jam 12 siang. Sewaktu datang, restoran penuh. Ada yang merayakan ulang tahun, ada yang makan siang dengan keluarga dan anggota keluarganya banyak, hehe. Jujur saya, melihat tamu-tamu yang saat itu terus berdatangan, saya sempat khawatir tidak dapat tempat. Berita bagus pun datang dari penerima tamu di depan pintu masuk Signatures Restaurant. Walaupun pengunjung ramai, penerima tamu tetap melayani saya dengan ramah dan senyuman. “Reservasi satu group dengan Pak Teguh ya?, silahkan mejanya sudah siap di sebelah sana” tutur si Mbak sambil tersenyum ramah dan menunjuk ke arah meja yang sudah direservasi. Yay! Reservasi sudah masuk ternyata dan saya dapat spot cantik di ujung sebelah kanan restaurant dengan pemandangan transparan ke arah taman kecil dan kolam.

Sebenarnya saya salut sama Signatures Restaurant yang sudah mau bersusah payah membuat festival kuliner dengan tema khas makanan Indonesia. Dengan festival seperti ini, tentunya dapat mengenalkan budaya Indonesia melalui kuliner tradisional ke pengunjung lokal maupun expatriate.

Festival ini juga salah satu bentuk partisipasi Hotel Indonesia Kempinski dalam rangka memeriahkan kemerdekaan Indonesia yang ke 70 dan merayakan ulang tahun Hotel Indonesia Kempinski yang ke 53 tahun. Tidak tanggung-tanggung, Signatures Restaurant menggelar festival ini selama 5 minggu dengan tema yang berbeda-beda di setiap minggunya, dimulai dari tanggal 5 Agustus sampai dengan 8 September 2015. Minggu pertama, menu tradisional yang ditawarkan adalah makanan yang berasal dari Sumatra (tanggal 5 Agustus s/d 11 Agustus 2015), kemudian diikuti oleh makanan khas Jawa (12 Agustus s/d 18 Agustus 2015), makanan khas Bali – Lombok (19 Agustus s/d 25 Agustus 2015), makanan khas Kalimantan (26 Agustus s/d 1 September 2015) dan ditutup oleh makanan Sulewesi – Maluku (2 September s/d 8 September 2015). Nah! begitu tahu jadwalnya, saya jadi pengen dateng setiap minggu! 😀

Mencoba makanan khas Kalimantan termasuk yang saya tunggu-tunggu, karena jujur saja, saya tidak banyak tahu tentang makanan khas Kalimantan. Makanya, senang sekali ketika tahu Signatures Restaurant memilih makanan khas Kalimantan sebagai salah satu tema festival kulinernya. Perfecto!

Tidak sabar mencoba ini-itu, saya melihat-lihat menu di sekeliling. Menu khas Kalimantan sudah tersaji dengan lengkap dan banyak jenisnya. Saya sampai bingung menentukkan yang mana dulu yang akan saya coba. Hampir semua nama menu terasa asing namanya. Dari menu bebek, ayam sampai ikan, semua ada. Dari menu sop, soto sampai sayuran ada. Saya pun mulai galau memilih makanan pembuka yang akan saya coba. Pilihan pertama saya untuk makanan pembuka adalah Lawa Gamai (Spice seaweed mixed with shredded king prawn).

Sesaat sebelum saya tahu kalau itu rumput laut, saya pikir itu ubur-ubur seperti yang suka dihidangkan di restoran Jepang, hehehe. Ternyata ini adalah rumput laut yang dibumbui parutan kelapa yang disangrai. Rumput laut yang biasanya saya makan, biasanya di dalam es teler, disajikan dengan sirup, atau sebagai pendamping dalam minuman yang manis. Tetapi Lawa Gamai ini disajikan berbeda. Rasanya unik namun tetap bikin segar! Bumbu kelapanya terasa seperti habis diasapi. Ada terasa pedas tetapi sedikit sekali. Taburan potongan udang juga ternyata jadi membuat Lawa Gamai tambah sedap.  Kalau saja tidak ingat masih banyak menu yang harus saya coba, pasti saya mengambil satu porsi lagi Lawa Gamai ini sebagai cemilan.

Lawa Gamai. Rumput laut dengan bumbu kelapa parut sangrai. Segar!

Lawa Gamai. Potongan udang yang melengkapi cita rasanya.

Makanan pembuka selanjutnya yang saya coba adalah Sate Ayam Melayu. Walaupun rasanya hampir sama dengan sate yang sering dijual di Jakarta, namun Sate Ayam Melayu yang disajikan di Signatures Restaurant tetap mempunyai keunikan tersendiri. Daging ayam yang ditusukkan ke batang bambu kecil terasa sangat halus teksturnya, terasa hampir seperti Sate Lilit yang berasal dari Bali. Makannya pun ditemani dengan ketupat seperti pada umumnya. Namun yang unik, pada Sate Ayam Melayu ini juga ditemani kuah kaldu ayam. Jadi, bisa makan kuah kaldunya dengan ketupat, baru diselingi dengan menikmati gigitan Sate Ayam Melayu dengan bumbu kacangnya. Hmmh..

Sate Ayam Melayu. Disajikan unik : Dengan kuah kaldu ayam. Sedap..

Masih penasaran dengan makanan pembuka lainnya khas Kalimantan, saya bertanya kepada salah satu chef yang menjaga di salah satu koridor khusus untuk makanan pembuka. “Silahkan Ibu bisa mencoba Soto ini. Soto ini khas dari Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah”. Wah, Pangkalan Bun. Dulu namanya hanya saya dengar ketika saya bekerja di salah satu perusahaan leasing, saat itu bos saya sering sekali melakukan perjalanan dinas ke Pangkalan Bun. Dan sekarang saya mencoba salah satu makanan khasnya. Asap mengepul-ngepul ketika Chef membuka kuali Soto Manggala. Tidak sengaja uap asapnya terhirup. Ah, baunya saja sudah membuat tidak sabar. “Soto ini tidak seperti Soto pada umumnya, makannya tidak dengan nasi, tetapi dengan Singkong”, tutur Chef sembari menaburi bawang goreng pada semangkuk Soto yang akan diberikan untuk saya. Untung saja saya tidak buru-buru mengambil nasi :D. Satu sendok pertama Soto Manggala, dengan kuah segar dan potongan daging ayam kotak-kotak, sudah membuat saya ketagihan. Kuahnya gurih dan rasa asinnya pas. Saya sangat menikmati setiap menyeruput kuahnya lagi dan lagi, sampai-sampai saya menyadari ada sedikit rasa perpaduan kayu manis dan sedikit merica pada kuahnya. Sesekali saya menyendok potongan-potongan ayam sekaligus singkong rebus yang juga terasa empuk. Siapa yang menyangka kalau singkong ternyata tidak hanya enak digoreng, tetapi juga dibuat Soto?

Soto Manggala. Dengan singkong rebus di dalamnya. Ternyata Singkong juga enak dibuat Soto.

Setelah semangkuk Soto Manggala hampir habis, teman saya, Marcelina akhirnya datang juga. Kami pun kemudian berpencar lagi untuk mengambil pilhan makanan masing-masing. Pilihan saya kali ini Lawa Mentimun dan Acar Kuning Pontianak. Sekaligus saya ambil dalam satu piring. Hehe.. sengaja saya mengambil Lawa Mentimun tidak begitu banyak, karena ruang di perut saya sisakan untuk makanan utama. Sekilas penampilan Lawa Mentimun ini mirip sekali dengan rujak serut. Parutan ketimun yang yang dibumbui parutan kelapa dan ditaburi potongan udang rebus, juga ternyata sangat pas menjadi salah satu hindangan pembuka. Rasa parutan kelapanya hampir sama dengan Lawa Gamai, namun buat saya Lawa Mentimun ini lebih segar.

Lawa Mentimun dan Acar Kuning Pontianak

Lawa Mentimun pun habis dalam sekejap hanya dengan beberapa kali suap. Sembari bersenda gurau dengan beberapa teman yang juga datang pada festival kuliner ini, saya pun menertawakan diri saya sendiri dalam hati. Melihat teman-teman saya makan dengan teratur, rapi dan cantik, saya kok makannya bar-bar dengan kecepatan tinggi. Jadi yang lain masih makan, saya sudah ambil piring lagi untuk mencoba menu lain 🙂

“Ini cepet deh dicobain, enak banget!” kata Mas Teguh sambil menunjuk Acar Kuning Pontianak di piring saya, yang saya ikuti dengan melahap potongan wortel pada menu Acar Kuning Pontianak. Gigitan pertama berhasil membuat Acar Kuning Pontianak menjadi salah satu favorit saya. Karena enak banget! Saya langsung teringat dengan Ikan Pesmol kesukaan saya, kurang lebih seperti itulah rasa bumbu Acar Kuning Pontianak. Wortel dan mentimun yang dipotong memanjang, terlihat segar dan berbunyi “gress-gress-gress!” ketika saya makan. Kematangan wortel dan mentimunnya sangat pas. Bahkan ketika saya menggigit wortelnya, bumbu acar kuningnya meresap sampai ke dalam. hmm.. yummy!  Saya suka sekali dengan sayuran yang masih segar dan tidak dimasak terlalu matang sehingga sering kali terasa lembek.  Sayang sekali saya lupa menanyakan kepada Chef, ikan apa yang dimasak untuk Acar Kuning Pontianak ini, menurut saya, rasanya mirip seperti ikan tuna. Bumbunya pun berhasil meresap sampai ke bagian daging ikan yang bagian lkulit luarnya terasa gurih. Sesekali saya merasakan sedikit pedas, membuat Acar Kuning ini semakin lezat. Rasanya ingin nambah lagi lalu ditambah nasi hangat dan sambal.

Makanan lain yang menjadi favorit saya adalah Iwak Baubar. Saya sempat menanyakan jenis ikan yang dipakai kepada salah satu pelayan, sebelum saya meminta satu porsi Iwak Baubar. “Ini memakai iwak (ikan) tenggiri Bu, lalu dipanggang dan ditambahkan saus tomat. Makanya dinamankan Iwak Baubar, karena baubar artinya dipanggang atau dibakar” tuturnya. Pantas saja aromanya begitu menggoda. Pertama kali melihat Iwak Baubar dan mencium aromanya, saya langsung jatuh cinta. Bahkan ketika saya belum mencicipinya. Dan benar saja. Ternyata rasanya memang sama ‘lezatnya’ dengan penampilannya yang menggoda. Sausnya terasa seperti saus barbeque. Dominasi rasa manis pada saus dan perpaduan bau asap pada permukaan ikan tenggiri berhasil menimbulkan rasa unik yang mendalam. Karena kelezatan Ikan tenggirinya, saya sampai mengambil Iwak Baubar ini dua kali!

Iwak Baubar di Signatures Restaurant. Leeezaat!

Selain menyuguhkan makanan Kalimantan, Signatures Restaurant juga memberikan bonus penampilan tari-tarian Kalimantan. Karena keasyikan makan, saya sampai tertinggal pertunjukannya, sehingga cuma dapat melihat penampilan para penari di penghujung tarian.

Pertunjukan Tari-tarian dari Kalimantan di Signatures Restaurant.

Para Penari.

Setelah melihat pertunjukan tari-tarian, saya kemudian mengambil makanan lain. Semakin saya berkeliling, semakin saya bingung mau mencoba yang mana lagi. Karena ternyata masih banyak sekali makanan utama yang belum saya coba, akhirnya saya putuskan untuk mengambil sedikit-sedikit agar bisa mencoba semuanya.

Potongan bebek yang seperti digulai pun juga ikut menarik perhatian saya. Adalah Bebek Masak Habang, masakan khas Banjarmasin, yang juga membuat saya merem-melek karena pas banget rasanya sama lidah saya. Ketika mencicipi bumbunya yang kental, rasanya pun begitu <em>familiar</em>. Saya seperti mengecap sedikit perpaduan rasa jahe dan kencur. Secara umum memang rasanya sedikit sama dengan gulai rendang, tetapi Bebek Masak Habang ini tidak pedas. Daging bebeknya juga empuk. sampai-sampai saya harus menahan godaan agar tidak mengambil nasi untuk menemani Bebek Masak Habang.

Bebek Masak Habang. Terasa sedikit mirip dengan gulai rendang

Dua jam, sungguh tidak terasa. Karena saya dan teman-teman disibukkan mengunyah ini-itu, belum lagi sibuk foto-foto mengabadikan makanan yang ditata begitu cantiknya oleh Signatures Restaurant. Malahan ada beberapa makanan kecil yang saya tidak tega makannya, karena saking cantiknya, hehehe.

Tapi tentu saja belum waktunya untuk makanan penutup. Karena ada beberapa makanan yang masih membuat saya penasaran. Salah satunya adalah Dadah Belasan Aromatic Dayak, makanan khas Dayak Kahayan, Kalimantan Tengah. Apa sih ini? bikin penasaran. Sambal kah? atau bumbu kah? Kalau sambal, kenapa teksturnya seperti kasar dan berserabut? Sebagai penggemar sambal, saya tidak bisa membayangkan memakan sambal yang berserabut seperti ini, hii.. mana enak?

Dadah Belasan Aromatic Dayak. Yang ternyata…

Ternyata..
ENAK!
Sambal ini bumbunya simpel aja dan unik. Karena menggunakan serai sebagai salah satu bahannya. Kalau saja saya tidak datang ke festival kuliner ini, maka saya tidak akan tahu ada sambal seenak ini. Yang membuat Dadah Belasan enak ternyata teknik membakar semua bumbu, yaitu daun serai, cabai merah, terasi, kemiri dan bawang merah. Saya kemudian mengambil lagi Iwak Baubar dan menambahkan sedikit sambal Dadah Belasan ini. Ah, Cocok sekali!

(kanan bawah). Iwak Baubar ‘dijodohkan’ dengan Dadah Belasan. Wajib coba!

Tanpa terasa, suasana restoran mulai sepi. Perlahan-lahan pengunjung mulai berkurang karena hari sudah semakin sore. Ternyata, Kamilah pejuang-pejuang perut yang masih semangat melanjutkan perjuangannya 😀 . Semakin sore, ternyata suasana restoran semakin sejuk. Saya pun mengikuti Marcelina yang sedang asyik memotret makanannya di taman kecil. Sambil duduk dan menikmati angin sore, saya menyantap semangkuk sup Tenggiri Asam Pedas dengan Terung Asam Rimbang, sebagai hidangan terakhir saya untuk makanan utama.

Tenggiri Asam Pedas

Walaupun perut sudah kenyang, tapi saya masih saja lahap menyantap sup tenggiri asam pedas yang masih hangat. Kuah asam pedasnya bikin segar. Sepertinya saya salah mengambil sup ini sebagai penutup makanan utama. Karena justru kuah asam yang juga terasa pedas malah menambah nafsu makan. Hahaha.. semoga saya tidak berani nambah ya! Kalau saja saya tidak melihat papan nama, tadinya saya pikir irisan terung asam berwarna hijau itu adalah belimbing sayur.

Kami semua kekenyangan di pojokan. Tahu-tahu sudah jam tiga sore lewat. Marcelina pamit pulang karena ada acara lain. Saya dan Mas Teguh pun menyerah, dan akhirnya mengambil beberapa makanan penutup yang cantik sekali. Saking cantiknya, makanan penutup itu difoto-foto selama 10 menit, baru kemudian kami makan 😀

Berbagai macam desserts : Strawberry Chocolate, mini cake, macaroons, butiran emas yang ternyata biskuit coklat. Semua enak!!

berbagai macam desserts yang yummy!

Macaroons!

Oh ya, dan semua enak desserts yang saya coba enak! Tetapi untuk macaroons, terlalu manis buat saya. Sehingga saya hanya menghabiskan satu saja, yang lainnya habis. Oh, oh!

Percaya atau tidak, pulang dari sini, saya langsung kepingin belajar bikin Dadah Belasan. Sudah terbayang kalau dimakan dengan nasi hangat dan ikan bakar.

Terima kasih Signatures Restaurant! Saya jadi ‘berkenalan’ dengan salah satu warisan budaya negeri ini 🙂

Catatan kecil:
Jika berminat datang ke festival kuliner ini, bisa langsung menghubungi Hotel Indonesia Kempinski di 021 – 2358 3898.

Weekday Lunch Rp.265.000,- ++/pax,

 Weekend Brunch Rp.360.000,- ++/pax dan Dinner Rp285.000,- ++/pax.</p>

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *