Traveling sendirian, kenapa tidak?

Traveling sendirian, kenapa tidak?

Setidaknya, itu yang sering sekali saya tanyakan kepada diri saya sendiri, saya tantang diri saya sendiri untuk jalan-jalan sendirian. Tentu saya berulang kali selalu saya jawab sendiri dalam hati, “sendiri? ya berani lah!”. Tapi nyatanya, selalu batal dan tidak jadi. Berulang kali sudah memantapkan hati, ujung-ujungnya ciut dengan pertanyaan-pertanyaan cemen seperti
“nanti ngobrol ama siapa dong? nanti kalau nyasar gimana sendirian? apa ada yang nolongin? nanti kalau bete, sharing sama siapa di perjalanan?” dan hal-hal lain yang tentunya akan ditertawakan orang yang sudah biasa jalan-jalan sendiri.

Sejak awal mulai jalan-jalan, saya tidak pernah sendirian. Menurut saya, asyik banget kalau jalan rame-rame, ada teman cerita, teman menertawakan kedodolan masing-masing, teman foto-foto aneh, teman untuk berkeluh kesah kalau ada sesuatu yang tidak diharapkan di perjalanan.

Sampai akhirnya beberapa waktu lalu saya iseng ikutan travel writing. Katanya, lebih asyik dan dianjurkan jalan sendirian kalau mau explore lebih mendalam. Ah masa iya? jalan-jalan dengan beberapa teman juga bisa kok, tantang saya dalam hati. Beberapa kali saya mencoba menulis untuk media, yang ternyata susah ya, Hehe.. menulis Blog bisa sesuka hati, menulis untuk media kan harus pakai EYD. Belum lagi, menulis untuk media harus melampirkan foto-foto yang bagus, mana bisa saya motret? Saya kadang cukup puas dengan hasil foto dari iphone saya yang biasanya sebatas saya tampilkan di Instagram dan Path. Atau, kadang mengandalkan foto teman traveling yang bawa DSLR canggih. Akhirnya, saya bingung pas mau mengirimkan ke media.. walaupun teman sudah mengijinkan hasil gambarnya ditampilkan di Media, tapi, ah, rasanya kurang afdol kalau tidak pakai foto hasil jepretan sendiri.

Kendala lain, ternyata pas sudah menulis panjang lebar tentang obyek wisata A, pas cari fotonya, tidak ada yang tidak ada sayanya atau teman-teman saya! Alias, kebanyakan foto narsis! hahaha.. . Kadang, malah tidak ada fotonya sama sekali.

Atau misalnya, baru kepikiran nulis sesuatu yang menarik di Obyek  A, tapi baru sadar belakangan juga kalau gak ada fotonya sama sekali. Contoh lain, saya tertarik banget mau nulis tentang boneka Sarubobo di Takayama, tapi percaya gak sih, gak ada satupun foto Boneka Sarubobo di kamera.

Duh!

Disitulah kadang saya merasa sedih mungkin saya harus lebih peka lagi dengan tempat wisata yang saya kunjungi. Maksudnya, tidak hanya : Ketemu tempat wisata – foto bareng – yang penting ada muka kita – beli souvenir – done, tetapi : Ini tempat apa? sejarahnya bagaimana? – Apa yang unik? – mencoba berinteraksi dengan penduduk setempat – mengambil foto landscape atau human interest yang baik dari Obyek disana. Tetapi memang agak sulit kalau pergi dengan beberapa teman, karena belum tentu mereka mau berlama-lama, ketika saya ingin memperdalam informasi dari sebuah lokasi bukan?

Lalu saya ingat, bahwa yang disarankan di sesi travel writing Itu benar juga. Kenapa sih gak merealisasikan traveling  sendirian? kali aja saya akan lebih dapat maknanya dari sebuah perjalanan, meski bukan berarti perjalanan-perjalanan saya sebelumnya tidak bermakna. Mungkin dengan melakukan traveling sendirian, saya jadi bisa lebih explore mendalam  dan lebih mengenal lagi tentang sebuah tempat wisata yang menurut saya menarik.

Jadi, semoga secepatnya bisa terlaksana jalan-jalan sendiri ! 😀 *kumpulin nyawa

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *