Menyepi di Kota Tua Takayama

Hari kedua di Kyoto, saya dan teman-teman bersiap-siap ke kota Takayama untuk menginap di sana. Karena akan berkunjung ke Shirakawa-go di Gifu Perfecture, maka bermalam di Takayama (kota terdekat dari Shirakawa-go) adalah pilihan yang terbaik. Waktu itu, karena sudah pesan tour J-hoppers via web dari Jakarta, jadi kita udah gak ribet lagi nanya-nanya naik bus apa ke Takayama dari Kyoto, karena sudah all-in di paket tournya (Kyoto – Takayama – Osaka, termasuk penginapan).

Buat yang tertarik baca-baca paket tour ke Takayama atau ke Shirakawa-go bisa lihat-lihat di sini ya J-hoppers Tour 

Ada beberapa item yang saya catat, kalau mau jalan sendiri (tidak pakai tour):

(semua harga di tahun 2015 yah)

  • Bus Kyoto ke Takayama : 3.100 yen (Chuo Kotsu Bus)
  • Bus Takayama  ke Osaka : 3.600 yen

Info time table bus  Shuttle Bus Tour Shirakawa-go (Takayama – Shirakawa – Takayama) : 1.200 yen

Pilihan lain, untuk yang punya tiket Shinkansen, tentu saja pakai Shinkansen akan lebih menghemat waktu.

Info jenis busnya ada di web J-hoppers ya.

Kalau buat saya, salah satu hal yang paling berat kalau liburan adalah harus bangun pagi. Tapi bangun siang bukan pilihan yang oke, mengingat sempitnya waktu dan miskinnya jatah cuti saya, sehingga mengharuskan saya bangun pagi kalau mau ngedatengin semua tempat wisata yang udah ada di itinerary.

Padahal, malemnya kadang baru sampe penginapan jam 12 atau jam 01.00, baru tidur jam 02.00, jam 06.00 udah harus bangun lagi T_T . Biasanya during vacation, dapat dipastikan mata saya sembab, makanya kudu didempul ama lipenstip yang gahar *semprul banget mbak alesannya Jam 08.00 pagi, saya udah nangkring di Takeda Station, Kyoto, untuk nunggu bus yang akan berangkat ke Takayama. Anehnya, ketika menaiki bus, hampir semua (90%) penumpangnya adalah manula. Paling yang masih muda *cie mudaa* cuma saya, teman-teman dan awak bus aja. Itu masih jadi misteri sampai sekarang hehe.

Suasana di dalam bus menuju Takayama, iya pake guide sagala..

Salah satu hal yang saya perhatikan selama ke Jepang, orang-orang tua di sana senang sekali menikmati waktu di perjalanan (bus dan pesawat) dengan membaca buku. Camkan itu wahai anak muda!

Perjalanan Kyoto ke Takayama, 4 jam aja. Lumayan bisa tidur di perjalanan. Selama perjalanan berhenti 2x di rest area,buat beli-beli cemilan. Setiap berhenti itu, saya selaluu beli chicken karaage yang masih hangat 😀 , cemilan ini pas banget buat udara dingin. Di rest area, wangi makanannya bikin ngiler! tapi ga tau halalan toyiban apa engga, jadinya yang dibeli ya chicken lagi chicken lagi. Timbangan, apa itu timbangan?

Karena bus baru berangkat jam 10.00, jadi sampai di Takayama sudah jam 2 siang. Bus berhenti tepat di depan Hida Hotel Plaza. Pas menginjakkan kaki di kota ini, suasananya langsung kerasa beda banget sama Kyoto. Jauh lebiiiih sepi. Jalanan raya di Takayama tidak seluas Kyoto. Tidak ada ramai orang-orang yang nyebrang perempatan jalan dengan teratur. Hanya satu atau beberapa orang, bahkan bisa saya hitung dengan jari. Hotel Hida Plaza ini termasuk hotel berbintang, tapi letaknya di tengah-tengah perumahan yang lumayan padat, tapi penduduk yang lalu lalang bisa dihitung dengan jari. Suasana akan sangat berbeda jika hotel ini ada di Kyoto atau Osaka, pasti sudah terletak di jalan raya yang besar atau jalan utama.

Kota Takayama

Karena kotanya kecil, kita bisa jalan kaki aja ngelilingin kotanya untuk ngunjungin tempat-tempat wisata. Tapi agak pe-er sih ya, kalau pas musim panas. Kemarin beruntung saya pas musim dingin menjelang musim semi, jadi bisa sambil jalan santai, menikmati angin sejuk, kalau kedinginan, tinggal melipir nyari yang hangat-hangat.

Pilihan lain, bisa naik bis atau becak yang ditarik dari depan, itu juga kalau tega ya sama mas-mas penarik becak yang kadang-kadang ganteng itu 😀 . Jadi siap-siap bawa lap, buat ngelapin masnya kalau dia keringetan.

Jalan santai di Takayama, jangan harap bisa menikmati jajaran gedung-gedung atau mall mewah yang lengkap dengan papan iklan kelap-kelip segede lapangan bola. Di sini, hanya ada perumahan, beberapa kuil dan tempat wisata, kios-kios kecil dan rumah makan.

Mungkin inilah mengapa, pas berangkat satu bus isinya manula semua, tempatnya memang cocok banget untuk menikmati masa tua hehe. Damai, sederhana, tentram, bebas polusi hingar bingar, gak neko-neko.

Tapi jangan salah, walaupun terbilang kecil, Takayama juga punya banyak tempat wisata. Buat yang ingin menjelajahi kota ini, jangan lupa ambil peta nya di pusat informasi yang ada di Takayama Station.

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah temple….

LUPA NAMANYA

hehehehehe *jangan ditiru

Kuil kecil di Takayama

Belakangan saya baru tahu, kalau namanya Hida Kokubunji Temple.

Di sini, ketemu ama 4 orang cewek-cewek dari jakarta juga, wah langsung deh rumpi. Sekaligus iri, karena mereka berhasil dapet tiket nonton Light Festival di Shirakawa-go

HIKS!

Gate masuk ke Hida Kokubunji Temple – Takayama

Kota Takayama – Kuil Hida Kokubunji

Waktu baru datang ke Takayama, sempet takjub. Karena di Kyoto tidak ada endapan salju sama sekali, jadi saya kesenengan kalau di sebagian besar halaman rumah di Takayama, ada banyak endapan salju. Di beberapa tempat memang mulai mencair, tapi gak jarang banyak juga yang saljunya masih tebal dan tinggi.

Sama sekali gak nyangka, kalau di kota sesepi ini saya malah menikmati banget saat-saat saya jalan kaki menikmati kesunyian.

Salah satu yang pengen banget saya datengin adalah Kota Tua di Takayama yang letaknya jalan Sanmachi Suji dan Sanno-machi Suji. Katanya sih, disini kental banget suasana Jepang masa lampau yaitu masa periode Edo atau pada era samurai. Bahkan di tempat wisata yang merupakan kunjungan No.1 saja pun masih terbilang sepi hehe..

Untuk menuju ke sini, saya cukup jalan kaki dari hotel.

Di perempatan Sanmachi Suji & Sanno Machi Suji

Menurut sejarah, dulunya Takayama adalah kota yang pernah dijadikan sebagai pusat perdagangan dan budaya. Sampai saat ini, segala bentuk rumahnya masih dipertahankan, sehingga terasa banget suasana ‘tempo dulu’ nya. Walaupun sebagian besar rumah-rumah di jalan ini adalah rumah makan dan toko cinderamata, namun bentuknya tetap seperti rumah jaman dulu.

Old Town di Takayama – Sanmachi Suji

Walaupun Takayama juga mempunyai curah hujan salju yang besar pada saat musim dingin, namun sewaktu saya ke Sanmachi Suji ini, sebagian besar salju sudah mulai mencair, meskipun di beberapa tempat masih banyak juga tebal-tebal. Padahal lucu juga kalau pas salju masih tebal dan salju turun, pasti ala-ala chirstmas yang suka di film-film. Coba deh googling dengan key word “Takayama winter”.

Perumahan penduduk di Takayama

Jalan Sanmachi Suji dan jalan-jalan serupa memang tidak begitu panjang, jadi gak kerasa banget jalan-jalan di sini, tiba-tiba sudah habis dan udah sampe di ujung hehe, saking kecilnya..

Tapi coba deh explore di setiap jalannya, pasti ketemu sisi lain yang sama cantiknya sama Sanmachi Suji, seperti si jembatan merah ini. Ini bukan di Kebun Raya tapi yah..

Jembatan Merah di ujung perempatan jalan Sanmachi Suji – Takayama

Karena ciamik banget, akhirnya foto-foto sampe ledes dan sampai habis gaya 😀 , makanya yang ada cuma foto ini, soalnya sisanya isinya muka saya semua sama temen-temen dengan berbagai gaya. Ckckck.. bukan maiiin!

Beberapa makanan yang wajib dicoba di Takayama, khususnya di jalan Sanmachi Suji ini adalah Sticky Rice. Saya juga nyoba sticky rice ini, enak banget disantap selagi hangat. Rasanya kaya ketan yang dibakar dan dilumuri bumbu yang terasa asin. Enak!

Sticky Rice – Takayama

Waktu menyusuri jalan Sanmachi Suji ini, ada satu rumah yang kelihatan berbeda dengan yang lainnya, karena rameee banget. Pas saya masuk, gak tahunya ini pabrik sake hehe.. gak kelihatan karena bentuknya rumah. Selain sake, juga jual berbagai macam cemilan yang biasa dibawa untuk oleh-oleh. Pengunjung diperbolehkan mencoba berbagai macam jenis sake dalam gelas-gelas kecil. Beberapa pengunjung malah membeli berbotol-botol sebagai oleh-oleh. Fotonya gak ada, karena disini kita sibuk icip-icip cemilan *icip-icip doang, belinya enggak kasta rojali ceritanyaaa “rombongan jarang beli”

si Mbak lagi liat-liat topi *pura-puranya gak tau kalau difoto*

Waktu itu kerasanya, jalanan kok mulai sepi banget. Toko-toko yang tadinya rame, mulai beres-beres, padahal masih jam setengah lima sore lewat dikit. Sempet mampir di toko souvenir sebentar. Satu hal yang saya perhatikan, di beberapa toko saya mampir, yang jualan kalau gak nenek-nenek ya kakek-kakek hehe.. entahlah, mungkin hanya kebetulan.

Karena mulai gelap, akhirnya jam 5 sore saya memutuskan kembali ke area hotel, juga dengan berjalan kaki. Anehnya, secara serentak toko-toko di pinggir jalan raya juga pada beres-beres, masukkin barang dagangannya. Jadi ini udah sepi, makin sepiii lagi.

Suasana di Takayama jam 5 sore. Gak ada yang lewat satupun hehe..

Takayama yang sepi

Selidik punya selidik, ternyataa, segala aktifitas di Takayama (toko dan kantor) memang berakhir jam 5 sore. Jadi kebayang dong, kalau malam sepinya kaya gimana?

Pas nyari tempat makan aja, harus intip-intip ke dalem, ini toko buka atau engga? Karena gak kelihatan tanda-tanda kehidupan.

Kalau ke Takayama, makanan khas lainnya yang gak boleh terlewatkan untuk dicoba adalah Hida Beef. Katanya sih, karena Takayama letaknya di pegunungan, sehingga makanan dan minum untuk sapi masih belum tercemar polusi, jadi rasa dagingnya enak banget..

Malamnya saya sempet nyoba masuk ke Pachinko, yaitu mesin judi yang terkenal sejak dari jaman dahulu kala. Saya mampir sebatas penasaran aja sih, untuk membuktikan gambar-gambar yang dulunya saya cuma bisa lihat di komik. Hehe.. ternyata bener lho, orang jepang mainnya sampai koinnya seember! Rame banget, deretan mesinnya panjaaang, mungkin jumlahnya ratusan dan mungkin pada sampai menginap di situ kali ya..

Mirisnya, pachinko ini sudah hampir seperti budaya tersendiri di Jepang.

Sayang banget di pachinko ini ga boleh ambil foto, jadi kita sempet diliatin, karena maen juga engga, tapi clingak clinguk ala paparazi.

Malemnya, Takayama bener-bener kaya kota mati. Kadang, yang ada di jalanan atau nyebrang jalan, ya cuma kita aja.. hiii… seru juga sih. Gak nyangka aja, kalau di Jepang dengan kota-kota besar yang terkenal sebagai “City that never sleeps” , ternyata juga mempunyai Takayama “The silent city”.

Facebook Comments

3 thoughts on “Menyepi di Kota Tua Takayama

  1. Pingback: Wajib Coba di Jepang : Menginap di Ryokan (Kyoto)

    1. neng ayu Post author

      Masa sih udah ke Austria, Jepang masih the best country? aku terpanaaa kalo gitu hehe, padahal liat foto temen lagi ke Austria, sampe ngeces di depan monitor T_T. Kota yang di Jepang blm banyaak juga yang aku kunjungi, blm sampe Hokkaido. Kayanya susah move on ama Kyoto hahah