Melihat Osaka Tempo Dulu : Osaka Museum of Housing and Living

Hari keempat di Osaka, ada beberapa yang harus saya kunjungi salah satunya Osaka Museum of House and Living.

Museum? Belajar banget nih lagi liburan sis?

Hehe.. jangan salah, ternyata mau foto-foto pakai yukata aja ceritanya. Aduh, sekali lagi, alasannya nista sekali T_T

Karena gagal jalan-jalan pakai yukata di Kyoto, ternyata ada alternatif lain yang bisa mengobati kekecewaan hati, yaitu sewa Yukata dan jalan-jalan ala keliling kota di Museum Osaka and Living ini. Selain lebih murah, gak pake ribet hehe. Setelah berbulan-bulan lamanya googling tentang museum ini, yang kebayang emang akan jalan-jalan di museum outdoor yang mirip kota tua gitu (Kota Osaka pada jaman baheula). Wah udah kebayang serunya jalan-jalan cancik make Yukata 😀

Sengaja bangun pagi, supaya bisa lama-lama foto-fotonya di museumnya, ternyata sampe lokasi siang juga, karena seperti biasa yah.. ngubek-ngubek exit gate subway selalu salah, sampe nyasar terus, lelah hamba lama-lama karena gak sampe-sampe. Buat yang ingin ke sini juga, jangan lupa baca-baca dulu di sini.soalnya di hari-hari tertentu museum ini tutup.

Setelah akhirnya keluar di exit gate yang (kayanya) benar, kok tetep gak ketemu bangunan-bangunan kota tua. Ketemunya gedung-gedung bertingkat lagi dan mall-mall lagi. Karena udah hopeless, akhirnya kita nanya lah ke petugas subway dengan nunjukin gambar dan nama museum dalam bahasa Jepang yang udah di print out di kertas *iya kali ini agak well prepared ya :D* . Kemudian bapak petugas bilang, kalau letaknya di sebelah kiri exit gate No.3 dan museumnya ada di dalam gedung. Hah! kok ya di dalam gedung?

Walaupun penuh perasaan heran, saya sama temen-temen tetap mengikuti petunjuk si Bapak tadi dengan memasuki sebuah gedung. Dan bener ajaa, museumnya ada di dalam gedung lantai 8 hehe.. beneran gak kelihatan (atau gak ngeh) sama sekali kalau yang di gambar itu sebenarnya di dalam ruangan. Akhirnya sirna sudah angan-angan keliling kota memakai yukata..

Sebagai pembuka rasa kekecewaan karena ternyata bakal jalan-jalan memakai yukata di dalam gedung aja, akhirnya inem memakai .

dsc_5485

memakai topeng dengan maksud dan tujuan yang gak jelas ..

Ya sudahlah,toh foto-foto pakai yukata tetap bisa kesampean. Anehnya, malah saya menikmati banget masa-masa berkunjung ke museum ini. Walaupun di dalam ruangan, suasana kota tua dibuat sangat mirip dengan kota Osaka pada jaman dulu (periode Edo tahun 1603-1867). Pengunjung juga diperbolehkan untuk masuk ke dalam rumah-rumah replika jaman dulu dan bisa menyaksikan setiap detail dari bagian rumah. Mulai dari kamar mandi, ruang sauna, dapur yang lengkap dengan tungku perapian, ruang tamu sampai sumur jaman dulu pun ada. Saya malah kegirangan sendiri karena ternyata jauuh lebih mengasyikkan daripada capek-capek jalan pakai yukata naik-turun subway, hehe *masih dalam rangka menghibur diri

Biaya masuk ke museum ini cukup 600 yen saja. Biaya sewa yukata pun murah nian! Hanya 200 yen, udah bisa pakai satu set yukata lengkap. Di Jepang karena rapi sekali dan detail, jadi setiap yang mau sewa yukata, daftar dulu, nanti kita akan dikasih nomer untuk giliran memakai yukata. Karena ramainya pengunjung, biasanya waktu pinjam dibatasi, hanya satu sampai dua jam saja. Sebelum waktu yang ditentukan, kita harus sudah kembali ke tempat penyewaan. Rasanya dua jam pasti cukup untuk keliling-keliling museum yang (ternyata) tidak besar ini.

Tapi, kata siapaaaa? nyatanya kami sibuk dan bingung mau foto-foto di sini, di sana, di situ dan di mana-mana.. hahaha.. sehingga dua jam terasa seperti setengah jam, jadilah kami kejar-kajaran sama waktu. Terlebih lagi, di saat pengen ambil foto, memang kadang terpana sama detailnya orang Jepang membuat replika. Secara otomatis, saya jadi baca keterangan sejarah pada secarik kertas yang diberikan ketika masuk museum

Udah siap lihat foto-fotonya?
MAAP YAAAAA :)) :)) :))

Ini waktu masih baru dateng dari Bekasi..habis ngangkut sampah di Bantargebang (jadi pake boots). Di Bekasi kalau musim panas, gpp juga pake jaket kulit kaya mbanya ini.. soalnya debu sis.. 😀

dsc_5490

Lagi nunggu giliran pakai yukata di Osaka Museum of House and Living

Nah ini pas udah agak lamaan di Jepang (3 hari..) :))

Pakai Yukata di Museum Osaka – Sewanya murah!

dsc_5494

Kamar mandi dan ruang sauna jaman dulu di Osaka.

dsc_5571

maap lho inii 😀 – Osaka Museum of House and Living

dan tak lupa menimba sumur walaupun lagi di negeri orang.. :))

dsc_5582

Gaya menimba sumur..

dsc_5617

Gaya lagi (pura-pura) jalan eh ketemu anjing di gang :))

Lucunya, di museum ini juga di buat seperti ada waktu malam, pagi dan siang. Jadi ketika pura-pura mau malam, ada matahari terbenam dan seisi kota jadi gelap.

dsc_5681

Ceritanya sunset 🙂

dsc_5690

Ceritanya malam :p

Capek kan ya liat foto si mbak terus, saya aja capek, tapi waktu foto-foto gak berasa hehe.. sampe-sampe baru sadar pas milihin foto, kok banyak bagian rumah yang menarik tapi gak ada fotonya :'(

Oh iya, jika beruntung, kadang suka ada festival juga di museum ini atau berbagai macam perayaan (bohong-bohongan), seperti perayaan pernikahan dengan menggunakan tradisi jaman dulu. Untuk jadwal festivalnya bisa dicek di webnya. Jadi bener-bener seperti “kota hidup”.

Habis dari museum ini, sempetin mampir ke toko camera Naniwa. Buat yang tertarik beli kamera second, beli di Jepang udah paling benar. Karena di Jepang, orangnya terkenal apik dan mengikuti perkembangan jaman. Sehingga, kadang baru 4 bulan dipakai dan kalau keluar model terbaru, mereka akan jual lagi dan beli yang baru. Jadi banyak banget kondisinya yang masih bagus.

Ok,  mari kita lupakan tentang toko kamera ini, karena saya lebih tertarik cerita tentang makanan lezat yang saya temuin di warteg nyelip-nyelip ketika lagi nungguin yang lagi pada belanja.

Ini ENAK BANGETT! Gak sengaja nemu di lorong stasiun. Tempat makannya keciil.. kalau di Jakarta, mirip warteg yang suka ada di kos-kosan hehe. Yang jualan nenek-nenek sama kakek-kakek. Ketika tahu seporsi  lengkap gini cuma 625 yen, tanpa ragu saya langsung pesen. Meski deg-degan juga, apa iya menu dengan lauk lengkap gini cuma 625yen? Karena penasaran ya udah deh dicoba pesen.

Ternyata bener, cuma, hanya, 69 yen saja. Rasanya pun enaak. Dari semua piring itu, semua habis saya makan gak bersisa 😀 , semuanya enak, apalagi ikan-ikannya, sampai acar jahenya pun saya makan (biasanya gak doyan). Lalu menyesal, gak nyatet alamatnya.. T_T

img_5112

THISSS!!

Lalu lanjut ke Tsutenkaku Tower salah satu landmark kota Osaka juga yang lokasinya di Shinsekai District. Tower ini sebenarnya seperti observation deck dengan ketinggian 103 meter. Karena pas sampai sana sudah malam, jadi mengurungkan niat naik ke atas. Cukup foto-foto ala model bekasi aja sudah cukup senang hati beta.

dsc_5739

Tsutenkaku Tower – Osaka

Habis dari tower ini, kerjaan saya cuma makan, ngemil, jajan di area ini dan Dotonburi-Shinsaibashi. Habis yaa jajanan di Jepang itu sungguh menggemaskan dan minta dicobain banget semuanya. Waktu kesini nyobain beli ice cream dari vending machine. Ice cream nya pun semuanya tidak dijual di Indonesia, karena penasaran saya beli 1 ice cream pocky rasa coklat yang enaak!

img_5135

Ice Cream pocky di vending machine, bikin gemes ya?

img_5129

 Bisa banget dibuat bekal. Cuma 380 yen! (sekitar kurang lebih 45 s/d 50ribu rupiah) Walaupun udah sering ke Dotonburi selama di Jepang, tapi gak pernah bosen. Akhirnya hampir setiap malem selama di Jepang, selalu ke Dotonburi – Shinsaibashi buat kuliner atau mampir ke toko oleh-oleh. Pantang pulang kalau waktu belum lewat dari jam 12 malam *turis gak mau rugi 😀

Besoknya udah hari terakhir nih, sedih sih, tapiii yang bikin happy adalah : ke USJ ketemu sama ‘dik Harry Potter!! *

Facebook Comments

One thought on “Melihat Osaka Tempo Dulu : Osaka Museum of Housing and Living

  1. Pingback: Hunting Baju Winter di Jakarta