Persiapan Rempong ke Myanmar

Travelling ke Myanmar?

Gak kebayang kalau saya beneran ke Negara ini. Dua tahun lalu, saya sempet kirim foto ke pacar, foto sunrise di Kota Bagan yang penuh dengan balon udara yang siap terbang. Responnya “Bagus ya, tapi Myanmar daerah konflik” . Akhirnya saya lupakan niat ke Negara ini. Sampai akhirnya, tahun ini (secara tidak terencana) terealisasi. I’m going to Myanmar! Yah nasip pelancong yang dompetnya baru mampu ke Negara-negara tetangga di Asia 🙂

Dan inilah rangkuman beberapa respon yang saya terima:

“Myanmar? Emang ada apa disana neng?” – seorang teman traveling
“Myanmar 5 hari? Apa gak kelamaan? Emang apa yang diliat?” – pacar
“Myanmar itu Laos kan nak?” Mommy (yang juga gatel traveling tapi disorientasi gini)
“Myanmar? Aku mau ikutt!” – Teman kantor (yang mure kaya saya, kemana aja hayok)
“Myanmar mba? Sumpah aneh banget!” — Junior di kantor.

Tapi yah, saya ini sungguh mure. Kemana aja hayok. Bagi saya traveling ya melihat dunia, sebuah mahakarya Sang Pencipta yang tidak saya kotak-kotakkan ke dalam Negara tertentu. Myanmar toh juga termasuk ke dalam dunia ciptaanNya yang terdapat spot-spot cantik, sekalipun destinasi ini aneh bagi sebagian orang dan tidak sepopuler negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Selagi dompet lagi mempersiapkan untuk ke destinasi populer nun jauh di Eropa sana (yang entah kapan), apabila ada kesempatan ke ‘tetangga’ yang affordable, kenapa engga? So here it is. Saya dan dua orang teman wanita saya nekat, tanpa persiapan itinerary yang matang dan dengan budget ngepas pas pas banget! (ini warning deh: JANGAN PERGI DI TANGGAL TUA) hahaha

Balada Mata Uang

Saya sudah cerita sedikit ya, bagaimana persiapan yang rempong sebelum pergi ke Myanmar. Gimana gak rempong, ditengah tanggal sekarat belum gajian, di Myanmar ini hanya terima USD untuk ditukar ke mata uang kyat (mata uang lokal). Sebagian harga tiket masuk tujuan wisata pun ada yang memakai USD begitu juga dengan pembayaran hotel yang hanya nerima USD. Budget hotel + transport + makan dll pun bengkak, menjadi 2jt selama lima hari. Pffttt… kayanya di Beijing aja lima hari gak sampe segitu, hiks.. sebagai tambahan informasi, sewaktu kesana 1 kyat = 12 rupiah.

Gimana deh Booking hotelnya iniii?

Persiapan rempong kedua adalah kehebohan reservasi budget hostel di Kota Bagan yang mayoritas belum bisa booking via online/ internet. Bahkan via tlp pun gak ada yang angkat atau gak nyambung. Hadeeeeh… beruntung di Yangon, saya menginap di Motherland Inn 2 dan hotel tersebut sangat mudah proses reservasi nya. Sedangkan di Bagan, saya dan teman-teman cuma bisa pasrah dan berakhir dengan reservasi hotel yang (lumayan) mahal via Agoda.

Mr.Signal, i need you!

Rempong selanjutnya adalah ketika saya tahu disana beneran tidak bisa sms alias provider cellular di Indonesia tidak kerjasama dengan provider cellular di Myanmar. Kebayang gak gimana pusingnya ngabarin orang-orang rumah dan *ehem* pacar? Dan keadaaan ini diselamatkan dengan wifi (yang sangat jarang) dan internet di hostel yang perjamnya bayar 1000 kyatt. Inipun lambat macam siput. Duh, biasanya di hostel wifi gratis or di Vietnam malah internet via pc pun free.. inaang!

Visa Myanmar, d’oh!

Kerempongan lain adalah apply visa. Asia tenggara kok make apply visa segala? yes, mari ktia tanyakan pada rumput yang bergoyang. Ya begitulah adanya, walhasil saya dan teman bolak balik ke embassy Myanmar untuk apply visa. (saya sebut bolak-balik, karena ada insiden embassy tutup due to Union Day. Dan waktu itu saya gak ngecek, main dateng aja deh -_- ).  Syarat visa sih gampang, foto 4 x 6 (bawa cadangan aja yang 3 x 4), background tidak diharuskan warna tertentu. Isi form apply visa (bisa diisi di embassy). Sebelum itu, perhatikan apa warna biji mata anda (karena ditanya lho di form, hahahaha *ini ngikik2 waktu apply) dan tentukan warna kulit anda (karena juga ditanya di form *ngikik lagi* ) . Lalu, siapkan uang 200ribu yes, buat biaya visa. Jangan lupa surat keterangan kerja dari kantor. Kalo saya, karena anaknya parnoan, saya lampirkan bookingan tiket + hotel (duile mba, ini Myanmar deh bukan yurop :p) . Visa akan jadi 2 s/d 3 hari kerja. Gampang kok! bolak – balik nya aja yang jadi PR si 🙂

Belajar Backpack *literally

Last but not least, perjalanan kali ini adalah pertama kali saya menggunakan backpack 33 liter ala backpacker. Biasa bawa koper, kali ini backpack :D. Udah kebayang kerempongannya dari sewaktu packing. Let me tell you, saya ini orangnya letoy, lha sekarang backpack bagaimana ini caranya mamak? Dengan tidak ada pengalaman packing di backpack 33 liter, segala baju saya gulung-gulung dan masukin berdasarkan kriteria LIFO or last in first out. Wkwkwkwk sotoy!  Dengan kondisi tiket tanpa bagasi, pas check in, tas 33 liter ini udah 8.2 kg aja dong beratnya! Lhaa apakabar oleh-oleh nanti? Mau ditaro dimana neng? T_T , Belom lagi, baru sampe bandara, pundak udah pegel hiks.. manja banget deh ni wanita (yang kala itu lagi) pms 🙁 . Lalu, baru tau dari temen kalau cara packing saya itu salah. Harusnya yang ringan ditaruh dibawah dan benda-benda yang lebih berat ditaruh di atas (area pundak). Roger that!

Ransel minjem temen. 33 Liter , yang warna orange. 😀

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *