The Museum Antonio Blanco dan Camel Safari Nusa Dua

Sepertinya, panggilan ndeso traveler ini cocok banget ya buat saya. Bagaimana tidak, di saat orang-orang bosen ke Bali (yea, at least kebanyakan teman saya begitu), saya seneng gak ketulungan. Ini kali ketiga saya ke Bali. Pertama kali, waktu dinas, dan waktu itu, boro-boro icip-icip ke pantai, Kuta doang yang rame nya kaya cendol..percaya atau tidak, ke GWK aja, sayah belomaan dooong T_T . Kedua kali, bareng temen-temen kampus, yang mana… 15 orang! Nah coba, menyamakan pendapat 15 orang waktu traveling, itu susah cuy! Rarempong lah pokoknya, jadi tujuan wisata yang saya kunjungi waktu itu yah, ikut suara terbanyak, Alhamdulillah udah sampe Bedugul *bangga 😀

Ke Bali kemarin pun akhirnya saya pergi tanpa itinerary pasti. Go show ajah. Mana yang duluan yang mau didatengin. Bangun pagi sebangunnya, gak ngotot pengen liat sunrise. Kesana kemari sesempatnya. And it was fun!

Dengan muka zombie karena flight jam 06.00, saya santai menuju Pasar Sukowati, kebetulan pasar ini searah dengan Museum Antonio Blanco, tujuan saya berikutnya. Memang gak bisa tahan belanja T_T . Beli ini-itu disana, karena sengaja bawa baju dikit aja, emang niat beli aja disini hihi.. kalau yang suka beli dress-dress pantai bahan kain yang murah-murah, beli disini aja.. karena dengan model dan bahan yang sama, kalau di pinggiran toko jl. Legian, harganya bisa dua kali lipat. (catat: dress dengan bahan murah)

Museum Antonio Blanco

Setelah mampir ke Pasar Sukowati, saya langsung cusss ke Museum Antonio Blanco. Kenapa kesitu? Ya penasaran aja. Saya penikmat fotografi, tapi tidak dengan lukisan, jadi biasa aja. Tapi karena penasaran juga sama karya-karya beliau seperti apa dan mengapa sebegitu terkenalnya beliau, jadi saya putuskan untuk menyempatkan datang. Terus, pengen foto-foto juga disitu #modus. Museum ini terletak di atas bukit di daerah Ubud, tepatnya di Gianyar. Kira-kira 1-1.5 jam dari Bandara I Gusti Ngurah Rai. Sampai di sana, saya langsung terkesima sama Gate Museum. Entahlah, sepertinya seperti kembali ke masa lampau dan saya langsung bisa merasakan jiwa seni empunya Museum ini. Untuk masuk Museum , dikenakan 30.000 (hari biasa) atau 40.000 (weekend), dengan harga tiket masuk tersebut, kita akan dapat welcome drink dan welcome flower :p .

Dsc_0089

Masuk ke halaman Museum, sungguh sejuuk! Me likey. Taman tertata rapi dan asri. Di lokasi bersebelahan dengan gedung Museum, ada rumah Mario Blanco (anak dari Antonio Blanco). Langsung mupeng pengeen punya rumah di tengah-tengah kebun rindang seperti ini. Masih di bagian taman, terdapat air mancur di tengah-tengah dan banyak burung-burung Kakak Tua atau sejenis macaw yang jinak dan pintar-pintar. Waktu itu saya diberitahu oleh salah satu penunggu Museum, kalau salah satu burung tersebut bernama Nancy, the biggest one (kirain, namanya Nancy, terus imut-imut gitu ukurannya). Bisa juga foto-foto sama burung-burung tersebut, sekaligus 6 ekor kalau kuat boleeeh, mereka jinak dan menyenangkan. Penunggu Muesum pun ramah-ramah, mereka dengan senang hati menyambut kita dan membantu kita kalau kita mau berfoto-foto sama burung-burung tersebut. I wanna house like this one! Huhuhu..

Memasuki bangunan utama (bangunan Museum), kita akan melewati tangga, dengan ukiran kiri-kanan. Sesampainya di dalam, bangunan tersebut suasana sangat sejuk, terdiri dari dua lantai dan terdapat suara musik opera klasik yang menenangkan. Pernah ke Spa? Nah mirip gitu deh suasananya, bikin pengen gelar tiker trus bobo karena ademnya hehe.. Akhirnya saya mengerti kenapa beliau terkenal, lukisannya memang indah. Beliau pengagum wanita,, kebanyakan (hampir keseluruhan) lukisan beliau memperlihatkan bentuk tubuh wanita, bertelanjang dada. Tapi bagi saya, tidak terkesan seperti pornografi. Pada salah satu sudut Museum, saya menemukan artikel yang beliau tulis berjudul Bali-A-Breast. Jadi semakin penasaran sama sejarah opa Antonio ini. Di Bagian sisi kiri Museum, terdapat pura milik pribadi tempat mereka bersembahyang.

Sungguh teduh dan sejuk museum ini, sangat pantas dijadikan salah satu objek wisata yang menarik di Bali.

Ride with me, Camel Safari!

Yasallaam.. bener aja kan, naek onta beneran hahaha.. *toyor diri sendiri . Hari kedua, bangun kesiangan. Baru bangun jam 10 aja dong! Padahal, udah booking camel safari jam 10.30.. akhirnya pasrah dan saya tetap santai. To be frank. Baru kali ini saya liburan bangun jam 10.00, biasanya jam 08.00 udah rapi jali siap ngebolang lagi.. dan ternyata, bangun siang kala liburan, damn. It feels good. So relax (mencari pembenaran).

Camel Safari ini terletak di Pantai Geger, Nusa Dua. Hihi.. sampai menuju kesana pun, saya tidak tahu pasti letak Camel Safari ini, ada yang bilang di Pantai Geger, ada yang bilang di Beach Front Hotel Nikko. Saya gak berusaha menghubungi lagi agent Camel Safari tersbut. Toh, udah telah banget ini, Dalam perjalanan, saya sempat menemukan beberapa agent travel tour lain lalu menyempatkan mampir, sekedar tanya-tanya, masih available atau tidak. And voila! Saya masih berjodoh naik onta hari itu dan bisa saat itu juga. Harga yang saya dapat 250ribu untuk satu jam atau 150ribu untuk setengah jam.

Dsc_0204
Dsc_0238

Informasi aja buat temen-temen, kalau booking camel safari via tlp, biasanya mereka menawarkan jam-jam yang available di saat-saat tertentu aja, seperti jam 09.00, 11.00, 14.00 dan terakhir jam 15.30 . Kalau mau waktu-waktu di luar itu, silahkan gambling datang ke kantor agent camel safari yang letaknya di sebelah kiri jalan (arah Hotel nikko), kira-kira 1 km sebelum Hotel Nikko. Saya rencana mau camel safari satu jam, di sore hari. Tapi apa daya, waktu saya kesana, waktu menunjukkan pukul 12.30.. hoosaaahh! Panas boi! Banget. Sangat. Langit cerah biru ceria ternyata senang dan setuju melihat saya naik onta :). Akhirnya, saya memutuskan untuk setengah jam saja. Insyaallah barokah dan memuaskan #apeu. Ternyata letak camel safari di Beach Front Hotel Nikko. Sesampai di hotel pun saya diantar guide dari travel tersebut dan Bapak inilah yang menemani saya sampai selesai. Masuk ke area Hotel Nikko, sungguh takjub deh. Disini ya tinggal orang-orang berduit.. no wonder hehe. Lobby nya ada di lantai 15. Jadi dari lantai 15, pemandangan ke bawah sungguh memanjakan mata. See the picture I took. Breathless. Garis bibir pantai yang membatasi pasir putih dan biru turquoise. Sekumpulan bulat-bulat dan oval biru itu ternyata swimming pool yang memenuhi pelataran halaman lantai 1 Hotel Nikko. Sungguh megah nan menawan. Maklumi saja ndeso ini ya.. sungguh bangga bisa liat pemandangan itu, padahal nginep disitu juga enggak. Hahaha.. laluu, beach nya Hotel Nikko, makjleb bagusnya.. *yaiyalaahh

Saya pun melanjutkan ke tempat camel safari. Ternyata naik onta ya sama aja kaya naik gajah hihi.. ngeri-ngeri gimana gitu sih pas si onta naik.. si pemandu, memandu onta-onta jalan di pesisir pantai. Bener-bener mirip padang pasir kalau cuacanya gini deh.. bedanya ada biru-birunya aja. Ternyata sering juga ada yang pre-wed dengan onta ini, kata si pemandu, kalau untuk pre-wedd, onta yang dipakai berbeda. Mereka menyediakan onta yang lebih ‘jinak’ (mau di atur-atur). Harga prewed pun berbeda, berkisar 550ribu per jam. Yang mau pre-wed pake ontaa.. mana suaranyaaaa….

Dsc_0388

Camel safari pun selesai. Makasih Bapak pemandu dan mas-mas yang rela panas-panasan nemenin saya naik onta 🙂 .

Tips:

  • Mending naik camel nya pagi/ sore, tidak terlalu panas
  • Bawa topi jangan lupaa..soalnya pake topi dari sana, umm.. agak bau-bau terasi gitu gaa… kkkkk :p
  • Cari harga paling murah (kalau masih sempat browse di internet, jangan lupa minta harga yang sudah include pajak, service + asuransi)
Facebook Comments